Manhaj | AyaturRahman

SEKILAS TENTANG AKIDAH SALAF SYAIKH DR. ABDULLAH AZZAM
...
Saya tahu bahwa buku ini akan memberikan greget kepada sebagian orang-orang yang baik. Yaitu orang-orang yang mendapatkan anugerah Allah swt mendalami pemahaman kaum salaf –khususnya dalam persoalan aqidah–, hanya saja saya berharap kegelisahan ini memisahkan manusia menjadi golongan orang-orang yang belajar ataukah orang-orang yang vakum hanya melihat kepada apa yang tampak dari nash.
Orang-orang yang mau mendalaminya, mereka akan mendapat bagian yang besar tentang pengetahuan dan wawasan yang cukup tentang sirah para sahabat dan tabiin dan beberapa karomah yang mereka dapatkan. Mungkin hal ini sudah cukup untuk meyakinkan berita-berita yang berkembang kepada mereka.
Adapun orang-orang yang tidak baik, kami tidak akan menghiraukan perhatian mereka, sebab mereka telah menjadikan dien mereka sebagai bahan mainan dan senda gurau. Dan kita telah diperintahkan untuk mengabaikan mereka berdasarkan dalil al Qur‟an:
“Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikabn agama mereka sebagai main main dan sendau gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia.” QS. Al An‟am: 70
Sebenarnya, saya akan menjelaskan tentang aqidah saya hanya kepada para pelajar yang memiliki hati yang lurus sehingga tidak terjerumus terlalu jauh bersama prasangka buruk yang mereka tuduhkan kepadaku dengan sebutan kelompok shufi yang menyimpang atau mengada-ada sesuatu yang menyimpang dari inti kebenaran.
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Dan shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah SAW Kepada keluarga dan para sahabatnya seluruhnya. Allah SWT telah mengutusnya dengan petunjuk dan agama yang benar agar Alalh memenangkan agama-Nya di atas seluruh agama yang ada dan cukuplah Allah SWT sebagai saksi.
Saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah swt semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya, menetapkan dan mengesakan dengan rububiyah, uluhiyyah dan nama serta sifat-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya dan para sahabatnya. Amma ba‟du.
Ini adalah aqidahku, yaitu akidah al firqah an najiyyah al manshurah (kelompok yang selamat dan mendapat kemenangan) hingga hari kiamat, yang disebut dengan ahlussunnah wal jamaah. Yaitu iman kepada Allah SWT, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kebangkitan setelah mati dan beriman kepada takdir yang baik dan buruk.
Iman Kepada Nama dan Sifat Allah SWT
Di antara konsekwensi iman kepada Allah SWT adalah iman kepada apa yang disifatkan untuk diri-Nya yang tercantum di dalam kitab-Nya dan yang terucap melalui lisan rasul-Nya tanpa menyimpangkan maknanya dan tidak meniadakannya sama sekali, tanpa bertanya bagaimana, dan tidak pula memisalkan. Akan tetapi kami beriman dan meyakini bahwa Allah SWT tidak ada yang semisal dengan Dia dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Maka kami menetapkan nama-nama yang baik untuk Allah SWT dan sifat-sifat yang tinggi yang terdapat di dalam kitab dan sunnah yang shohih.
Kami meyakini bahwa generasi salaf (radhiallahu „anhum) dan ahlissunnah wal jamaah, mereka mengetahui makna sifat-sifat itu, akan tetapi mereka menyerahkan perkara bagaimana dan bentuknya kepada Allah „azza wa jalla. Kami meyakini sebagaimana mereka mayakini bahwa Allah SWT disifati dengan sifat-sifat ini dengan makna sebenarnya bukan makna majaz dan menyesuaikan dengan keagungan-Nya tanpa menyerupakan sifat-Nya dengan sifat makhluq-Nya. Sebagaimana Imam Malik rahimahullah pernah berkata:
Istiwa’ (bersemayam) itu adalah sesuatu yang sudah diketahui,
Bagaimananya tidak diketahui,
Mengimaninya adalah wajib
Dan menanyakannya adalah perbuatan bid’ah.
Kami beriman bahwa Allah SWT memiliki tangan tidak sama seperti kedua tangan kita. Dia memiliki penglihatan yang tidak sama seperti penglihatan kita. Kami beriman kepada turunnya Allah swt ke langit dunia. Kami mengatakan, turun adalah sesuatu yang telah diketahui, bagaimana ia turun tidak diketahui, beriman kepadanya adalah wajib serta menanyakannya adalah perbuatan bid‟ah.
Istiwa’ (bersemayam) Fauqiyyah (di atas)
Kami beriman bahwa Allah SWT bersemayam di atas „arsy jauh dari hamba-Nya berada di atas langit ketujuh. Kami tidak mengatakan istiwa‟ bermakna istaula (menguasai) atau al haimah (bingung) serta kami mensucikan-Nya dari anggapan Dia bersama waktu dan tempat.
Al ma‟iyyah adalah Dia bersama kita dengan pendengaran-Nya, penglihatan-Nya dan ilmu-Nya.
Iman Kepada Taqdir
Kami beriman kepada Allah swt bahwa Dia adalah yang menciptakan amalan hamba yang disertai sifat memilih di dalam amalnya. Kami beriman bahwa Allah SWT Maha melakukan apa saja yang Dia inginkan …. Tidak ada sesuatu yang terjadi melainkan dengan kehendak-Nya, tidak ada sesuatupun yang keluar dari ketentuan taqdir-Nya, tidak ada sesuatupun melainkan Dia yang mengaturnya, tidak ada sesuatu yang dialami dan yang tidak dialami oleh seseorang melainkan telah tercatat di dalam buku lauhul mahfuzh.
Aqidah kami adalah aqidah pertengahan antara qodariyah yang menyandarkan segala aktivitas kepada hamba dan menganggap hamba itulah yang menciptakan amal baik dan buruk yang dilakukan. Dan kami menyelisihi kelompok jabariyah, maka kami tidak mengatakan hamba itu dipaksa segala amal baik dan buruknya. Akan tetapi –sebagaimana yang pernah kami ungkapkan– kami meyakini bahwa Allah SWT yang menciptakan kami dan menciptakan amal kami serta hamba itu diberi pilihan dengan amalnya.
Dan di dalam masalah iman, kami meyakini bahwa iman adalah keyakinan hati, ucapan lisan, beramal dengan anggota badan. Dia dapat bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiyat.
Soal Dosa-Dosa Kecil dan Dosa-Dosa Besar
Akidah kami adalah aqidah yang bersifat tawassuth (pertengahan) antara firqah murjiah dan haruriyyah (khawarij) serta mu‟tazilah. Kami tidak mengatakan seperti ungkapan orang-orang khawarij bahwa pelaku dosa besar kafir. Kami pun tidak mengatakan seperti orang-orang murji‟ah, bahwa iman itu tidak menjadi berbahaya dengan maksiat. Kami pun tidak mengatakan seperti orang-orang mu‟tazilah, bahwa pelaku dosa besar berada di antara dua tempat (antara neraka dan jannah). Akan tetapi kami berharap kebaikan untuk orang yang muhsin dan takut atas orang-orang yang jahat. Apabila seseorang mati dan belum bertaubat maka persoalannya diserahkan kepada Allah SWT, jika Dia berkehendak Dia akan mengadzab atau Dia akan mengampuninya.
Tentang Para Sahabat
Aqidah kami tawassut antara kelompok rafidhah (syiah) dan khawarij. Kami meyakini keutamaan seluruh para sahabat. Kami tidak berbuat ghulu dalam mensikapi ahli bait. Lain halnya dengan kelompok khawarij, mereka mengkafirkan Utsman, Ali, Thalhah, az Zubair, Muawiyah dan Amru bin al „Ash. Kami beriman bahwa manusia yang paling mulia dari umat ini adalah Muhammad SAW Kemudian Abu Bakar ash Shiddiq, kemudian Umar al Faruq, kemudian Utsman dzun nurain, kemudian Ali, kemudian sepuluh orang yang mendapat kabar gembira jaminan masuk surga, yaitu: Saad, Said, Thalhah, az Zubair, Abu Ubaidah, Abdurrahman bin Auf. Kemudian para sahabat yang ikut dalam baiat ridhwan, kemudian seluruh sahabat yang diridhai Allah SWT
Kami mencintai seluruh para sahabat, memintakan ampunan untuk mereka, kami memuji kebaikan mereka dan tidak mencela mereka. Kami tidak akan membicarakan perselisihan yang terjadi di antara mereka, kami mengakui keutamaan mereka, tidak mengkafirkan seorangpun orang islam karena dosa yang tidak menyebabkan darah mereka halal ditumpahkan atau melakukan perbuatan yang berakibat kepada kekafiran, seperti sujud kepada salib. Kami berharap Allah SWT mengampuni orang-orang yang baik dan memasukkan mereka ke dalam jannah dengan rahmat-Nya. Kami tidak memastikan dan bersaksi bahwa mereka adalah penghuni jannah, tidak pula penghuni neraka, kecuali orang-orang yang telah disaksikan oleh Rasulullah SAW dan kami ridha kepada ummahatul mukmini yang bersih dari segala celaan buruk.
Tentang Para Wali
Kemi percaya adanya karomah-karomah yang terjadi pada diri para wali Allah SWT, orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Seluruhnya adalah wali-wali ar Rahman. Orang yang paling mulia di antara mereka adalah orang yang paling taat dan paling mengikuti al Qur‟an dan as Sunnah.
Masalah Berhukum DenganSselain yang Diturunkan Allah SWT
Kami berpendapat bahwa berhukum dengan selain yang telah diturunkan Allah SWT adalah kafir keluar dari millah. Kami berpendapat, memutuskan perkara atas dasar hukum manusia adalah batil, tidak boleh dibiarkan dan dibenarkan. Kami meyakini bahwa jihad akan terus tegak sampai hari kiamat sejak Allah SWT mengutus Muhammad SAW sampai umat terakhir memerangi dajjal. Dan tidak ada seorang yang jahat ataupun orang yang berpaling mampu menghalangi.
Pelaku dosa besar dari umat Muhammad SAW tidak kekal di dalam neraka –apabila ia mati sebagai orang yang bertauhid–, meskipun dia belum bertaubat. Mereka berada di bawah kehendak dan ketentuan-Nya. Apabila Ia berkehendak Dia akan mengampuninya dengan karunia-Nya dan jika Dia berkehendak Dia akan mengadzab dengan keadilan-Nya.
Kami berpendapat, shalat di belakang orang yang baik dan fajir (pelaiku maksiat) dari umat islam adalah sah, dan juga menshalatkan salah seorang dari mereka yang meninggal dunia. Kami tidak memfonis seorang muslim dengan kafir, munafik dan musyrik selama tidak ada pada diri mereka sesuatu amalan yang mengeluarkan dari iman.
Kami membiarkan rahasia mereka kepada Allah SWT Kami tidak membenarkan dukun dan para normal. Kami membenci para pelaku bid‟ah. Kami berpendapat bahwa meminta perlindungan dan kebutuhan hidup kepada orang mati adalah perbuatan syirik. Adapun bertawasul dengan manusia yang telah mati adalah dilarang dan wajib ditinggalkan.
Kami pun berpendapat bahwa membangun kuburan, menjadikannya sebagai masjid, memasang penerangan di atasnya, memasang bendera, memagar dan memberi tirai di kuburan adalah termasuk perbuatan bid‟ah yang haram, wajib diperangi.
Kami beriman kepada fitnah kubur dan kenikmatan di dalamnya serta kami beriman ruh itu akan dikembalikan ke jasad. Kami beriman bahwa manusia akan berdiri menghadap Allah SWT dengan kondisi telanjang dan tidak beralas kaki. Kami beriman kepada shirat yang membentang di atas tepi jahannam yang akan dilewati oleh manusia dengan cara sesuai dengan kadar amal shaleh masing-masing. Kami beriman kepada telaga nabi kita SAW dan kami beriman kepada syafaatnya dan dialah yang pertama kali orang yang memberi syafaat. Jannah dan neraka adalah makhluq yang kekal dan sekarang keduanya telah ada. Orang-orang yang beriman akan melihat Rabb mereka dengan mata kepala sendiri pada hari kiamat seperti memandang bulan pada malam purnama. Bahwasannya nabi SAW adalah penutup para nabi dan rasul dan dia adalah manusia yang paling baik dari seluruh makhluq.
Bahwasannya Allah SWT terbebas dari memiliki batasan, arah tujuan, penopang, anggota tubuh dan peralatan-peralatan lain. Dan tidak pula memiliki arah yang enam, seperti yang dituduhkan oleh kelompok bid‟ah. Kami beriman bahwasannya al „arsy dan al kursiy adalah benar. Dia tidak membutuhkan al „Arsy dan apa-apa yang ada di bawahnya. Dia Maha meliputi segala sesuatu. Ahli kiblat disebut sebagai orang muslim dan mukmin. Barang siapa yang melakukan shalat seperti shalat kami, menghadap ke arah kiblat kami dan memakan sembelihan kami dia adalah muslim, baginya pahala apa yang menjadi pahala kami dan baginya pula dosa apa yang menjadi dosa bagi kami.
Kami meyakini bahwa al Qur‟an diturunkan dari sisi Allah SWT dia adalah kalamullah bukan makhluq, darinya dia berasal dan kepada-Nya pula akan kembali. Dan Dia SWT berbicara dengannya dan menurunkannya kepada hamba, rasul dan kepercayaan-Nya dengan mewahyukannya kepadanya dan sebagai penghubung antara Dia dan hamba-Nya adalah nabi kita Muhammad SAW.
***
...

Dikutip dari AyaturRahman Kafayeh Edition dalam bentuk PDF

***
Dan Malaikat Pun Turun di Afghanistan
Oleh: Dr. Abdullah Azzam
***
Kisah-Kisah Tentang Karomah
di Medan Jihad Afghanistan
***
“Sejak aku mengenal „buku ajaib‟ itu, aku tak pernah berhenti berdo‟a agar Allah menggabungkanku dengan para mujahidin dan menjadikanku salah seorang syuhada.” (Imam Samudra, Aku Melawan Teroris, Jazeera, Solo, cet. I, hal. 42)
Dan inilah terjemahan „buku ajaib‟ yang dimaksud.
***
رُرِ رَ وا رِ لَّ رِ رَ يا رُيُرَ ارَيُ رُ رَ وا رِ رَ لَّيُرُ مْ ا رُ رِ رُ وارَ رِ لَّ واوارَا رَ رَ ا رَ مْ رِيرِ مْ ا رَرَ رِ رٌيا
“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnaya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.” (QS. Al Hajj: 39)
“Berjihadlah kalian, karena sesungguhnya jihad adalah ke-rahib-an di dalam islam.”
(Hadits shohih diriwayatkan oleh Imam Ahmad)
Bahwasannya Benua Asia adalah ibarat tubuh yang hidup. Dan umat islam Afghanistan adalah hatinya yang berfungsi sebagai penggerak hidup. Menguasai bumi Afghanistan, itu artinya menguasai benua yang besar, yang berpengaruh kepada pertumbuhan dan kejayaannya. Dan apabila hati ini selalu hidup dengan bahagia maka seluruh jasad akan merasakan ketentraman, dan jika tidak, maka tubuh akan menjadi seperti sehelai bulu yang terombang-ambing di atas angin. (Iqbal)
Demi hidupku yang menjadi taruhannya, seandainya tidak ada satu keturunanpun di dunia ini yang hidup membela islam, saya pasti tetap menyaksikan para pembela itu berada di antara penduduk gunung Himalaya dan Hindukus dan di sanalah gairahnya memancarkan cahaya yang berkilau.
(Syakib Arsalan)
***
Judul Asli :
Ayatur Rahman fii Jihadil Afghan
Penulis :
Syaikh Dr. Abdullah Azzam
Judul Terjemah :
Dan Malaikat Pun Turun di Afghanistan
Penerjemah :
Wahyudin
Editor:
Fauzan
Diterbitkan oleh :
Kafayeh Cipta Media
Ebook by:
Jahizuna | Maktabah Tauhid dan Jihad
www.jahizuna.com
nb: Belilah bukunya agar dapat membantu kelangsungan penerbit-penerbit jihadi!!!!!!
Jangan lupa juga untuk meng-infaq-kan sebagian rizki antum kepada keluarga para mujahid!!!!!
Dapatkan bukunya dengan menghubungi penerbit:
Kafayeh Cipta Media
Jl. Raya Klaten-Boyolali, AX, Girimulyo, Gergunung,
Klaten, Klaten Utara, Jawa Tengah.
Tlp. 081 393 396 635
E-Mail: kafayeh_media@telkom.net

Related Posts: