Manhaj | Salafy.Or.Id

Istilah Ahlus Sunnah tentu tidak asing bagi kaum muslimin. Bahkan mereka semua mengaku sebagai Ahlus Sunnah. Tapi siapakah Ahlus Sunnah itu? Dan siapa pula kelompok yang disebut Rasulullah sebagai orang-orang asing?

Telah menjadi ciri perjuangan iblis dan tentara-tentaranya yaitu terus berupaya mengelabui manusia. Yang batil bisa menjadi hak dan sebaliknya, yang hak bisa menjadi batil. Sehingga ahli kebenaran bisa menjadi pelaku maksiat yang harus dimusuhi dan diisolir. Dan sebaliknya, pelaku kemaksiatan bisa menjadi pemilik kebenaran yang harus dibela. Syi’ar pemecah belah ini merupakan ciri khas mereka dan mengganggu perjalanan manusia menuju Allah merupakan tujuan tertinggi mereka.

Tidak ada satupun pintu kecuali akan dilalui iblis dan tentaranya. Dan tidak ada satupun amalan kecuali akan dirusakkannya, minimalnya mengurangi nilai amalan tersebut di sisi Allah Subhanahu Wata’ala. Iblis mengatakan di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala: “Karena Engkau telah menyesatkanku maka aku akan benar-benar menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus dan aku akan benar-benar mendatangi mereka dari arah depan dan belakang, dan samping kiri dan samping kanan.”, (QS. Al A’raf : 17 )

Dalam upayanya mengelabui mangsanya, Iblis akan mengatakan bahwa ahli kebenaran itu adalah orang yang harus dijauhi dan dimusuhi, dan kebenaran itu menjadi sesuatu yang harus ditinggalkan, dan dia mengatakan: “Sehingga Engkau ya Allah menemukan kebanyakan mereka tidak bersyukur.” (QS. Al A’raf: 17)

Demikian halnya yang terjadi pada istilah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Istilah ini lebih melekat pada gambaran orang-orang yang banyak beribadah dan orang-orang yang berpemahaman sufi. Tak cuma itu, semua kelompok yang ada di tengah kaum muslimin juga mengaku sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah. Walhasil, nama Ahlus Sunnah menjadi rebutan orang. Mengapa demikian? Apakah keistimewaan Ahlus Sunnah sehingga harus diperebutkan? Dan siapakah mereka sesungguhnya?

Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita harus merujuk kepada keterangan Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasallam dan ulama salaf dalam menentukan siapakah mereka yang sebenarnya dan apa ciri-ciri khas mereka. Jangan sampai kita yang digambarkan dalam sebuah sya’ir:

Semua mengaku telah meraih tangan Laila

Dan Laila tidak mengakui yang demikian itu

Bahwa tidak ada maknanya kalau hanya sebatas pengakuan, sementara dirinya jauh dari kenyataan.

Secara fitrah dan akal dapat kita bayangkan, sesuatu yang diperebutkan tentu memiliki keistimewaan dan nilai tersendiri. Dan sesuatu yang diakuinya, tentu memiliki makna jika mereka berlambang dengannya. Mereka mengakui bahwa Ahlus Sunnah adalah pemilik kebenaran. Buktinya, setelah mereka memakai nama tersebut, mereka tidak akan ridha untuk dikatakan sebagai ahli bid’ah dan memiliki jalan yang salah. Bahkan mengatakan bahwa dirinya merupakan pemilik kebenaran tunggal sehingga yang lain adalah salah. Mereka tidak sadar, kalau pengakuannya tersebut merupakan langkah untuk membongkar kedoknya sendiri dan memperlihatkan kebatilan jalan mereka. Yang akan mengetahui hal yang demikian itu adalah yang melek dari mereka.

As Sunnah

Berbicara tentang As Sunnah secara bahasa dan istilah sangat penting sekali. Di samping untuk mengetahui hakikatnya, juga untuk mengeluarkan mereka-mereka yang mengakui sebagai Ahlus Sunnah. Mendefinisikan As Sunnah ditinjau dari beberapa sisi yaitu sisi bahasa, syari’at dan generasi yang pertama, ahlul hadits, ulama ushul, dan ahli fiqih.

As Sunnah menurut bahasa

As Sunnah menurut bahasa adalah As Sirah (perjalanan), baik yang buruk ataupun yang baik. Khalid bin Zuhair Al Hudzali berkata:

Jangan kamu sekali-kali gelisah karena jalan yang kamu tempuh

Keridhaan itu ada pada jalan yang dia tempuh sendiri.

As Sunnah menurut Syari’at Dan Generasi Yang Pertama

Apabila terdapat kata sunnah dalam hadits Rasulullah atau dalam ucapan para sahabat dan tabi’in, maka yang dimaksud adalah makna yang mencakup dan umum. Mencakup hukum-hukum baik yang berkaitan langsung dengan keyakinan atau dengan amal, apakah hukumnya wajib, sunnah atau boleh.

Al Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari 10/341 berkata: “Telah tetap bahwa kata sunnah apabila terdapat dalam hadits Rasulullah, maka yang dimaksud bukan sunnah sebagai lawan wajib (Apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila di tinggalkan tidak akan berdosa, pent.).”

Ibnu ‘Ajlan dalam kitab Dalilul Falihin 1/415 ketika beliau mensyarah hadits ‘Fa’alaikum Bisunnati’, berkata: “Artinya jalanku dan langkahku yang aku berjalan di atasnya dari apa-apa yang aku telah rincikan kepada kalian dari hukum-hukum i’tiqad (keyakinan), dan amalan-amalan baik yang wajib, sunnah, dan sebagainya.”

Imam Shan’ani berkata dalam kitab Subulus Salam 1/187, ketika beliau mensyarah hadits Abu Sa’id Al-Khudri, “di dalam hadits tersebut disebutkan kata ‘Ashobta As Sunnah’, yaitu jalan yang sesuai dengan syari’at.”

Demikianlah kalau kita ingin meneliti nash-nash yang menyebutkan kata “As Sunnah”, maka akan jelas apa yang dimaukan dengan kata tersebut yaitu: “Jalan yang terpuji dan langkah yang diridhai yang telah dibawa oleh Rasulullah. Dari sini jelaslah kekeliruan orang-orang yang menisbahkan diri kepada ilmu yang menafsirkan kata sunnah dengan istilah ulama fiqih sehingga mereka terjebak dalam kesalahan yang fatal.

As Sunnah Menurut Ahli Hadits

As sunnah menurut jumhur ahli hadits adalah sama dengan hadits yaitu: “Apa-apa yang diriwayatkan dari Rasulullah baik berbentuk ucapan, perbuatan, ketetapan, dan sifat baik khalqiyah (bentuk) atau khuluqiyah (akhlak).

As Sunnah Menurut Ahli Ushul Fiqih

Menurut Ahli Ushul Fiqih, As Sunnah adalah dasar dari dasar-dasar hukum syaria’at dan juga dalil-dalilnya.

Al Amidy dalam kitab Al Ihkam 1/169 mengatakan: “Apa-apa yang datang dari Rasulullah dari dalil-dalil syari’at yang bukan dibaca dan bukan pula mu’jizat atau masuk dalam katagori mu’jizat”.

As Sunnah Di Sisi Ulama Fiqih

As Sunnah di sisi mereka adalah apa-apa yang apabila dikerjakan mendapatkan pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak berdosa.

Di sini bisa dilihat, mereka yang mengaku sebagai ahlus sunnah -dengan menyandarkan kepada ahli fikih-, tidak memiliki dalil yang jelas sedikitpun dan tidak memiliki rujukan, hanya sebatas simbol yang sudah usang. Jika mereka memakai istilah syariat dan generasi pertama, mereka benar-benar telah sangat jauh. Jika mereka memakai istilah ahli fiqih niscaya mereka akan bertentangan dengan banyak permasalahan. Jika mereka memakai istilah ulama ushul merekapun tidak akan menemukan jawabannya. Jika mereka memakai istilah ulama hadits sungguh mereka tidak memilki peluang untuk mempergunakan istilah mereka. Tinggal istilah bahasa yang tidak bisa dijadikan sebagai hujjah dalam melangkah, terlebih menghalalkan sesuatu atau mengharamkannya.

Siapakah Ahlus Sunnah

Ahlu Sunnah memiliki ciri-ciri yang sangat jelas di mana ciri-ciri itulah yang menunjukkan hakikat mereka.

1. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah dan jalan para sahabatnya, yang menyandarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman salafus shalih yaitu pemahaman generasi pertama umat ini dari kalangan shahabat, tabi’in dan generasi setelah mereka. Rasulullah bersabda:

“ Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian orang-orang setelah mereka kemudian orang-orang setelah mereka.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad)

2. Mereka kembalikan segala bentuk perselisihan yang terjadi di kalangan mereka kepada Al Qur’an dan As Sunnah dan siap menerima apa-apa yang telah diputuskan oleh Allah dan Rasulullah. Firman Allah:

“Maka jika kalian berselisih dalam satu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasulullah jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan yang demikian itu adalah baik dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59)

“Tidak pantas bagi seorang mukmin dan mukminat apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan suatu perkara untuk mereka, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata. (QS. Al Ahzab: 36)

3. Mereka mendahulukan ucapan Allah dan Rasul daripada ucapan selain keduanya. Firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendahulukan (ucapan selain Allah dan Rasul ) terhadap ucapan Allah dan Rasul dan bertaqwalah kalian kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Hujurat: 1)

4. Menghidupkan sunnah Rasulullah baik dalam ibadah mereka, akhlak mereka, dan dalam semua sendi kehidupan, sehigga mereka menjadi orang asing di tengah kaumnya. Rasulullah bersabda tetang mereka:

“Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula daam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang dikatakan asing.” (HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

5. Mereka adalah orang-orang yang sangat jauh dari sifat fanatisme golongan. Dan mereka tidak fanatisme kecuali kepada Kalamullah dan Sunnah Rasulullah. Imam Malik mengatakan: “Tidak ada seorangpun setelah Rasulullah yang ucapannya bisa diambil dan ditolak kecuali ucapan beliau.”

6. Mereka adalah orang-orang yang menyeru segenap kaum muslimin agar bepegang dengan sunnah Rasulullah dan sunnah para shahabatnya.

7. Mereka adalah orang-oang yang memikul amanat amar ma’ruf dan nahi munkar sesuai dengan apa yang dimaukan Allah dan Rasul-Nya. Dan mereka mengingkari segala jalan bid’ah (lawannya sunnah) dan kelompok-kelompok yang akan mencabik-cabik barisan kaum muslimin.

8. Mereka adalah orang-orang yang mengingkari undang-undang yang dibuat oleh manusia yang menyelisihi undang-undang Allah dan Rasulullah.

9. Mereka adalah orang-orang yang siap memikul amanat jihad fi sabilillah apabila agama menghendaki yang demikian itu.

Syaikh Rabi’ dalam kitab beliau Makanatu Ahli Al Hadits hal. 3-4 berkata: “Mereka adalah orang-orang yang menempuh manhaj (metodologi)-nya para sahabat dan tabi’in dalam berpegang terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah dan menggigitnya dengan gigi geraham mereka. Mendahulukan keduanya atas setiap ucapan dan petunjuk, kaitannya dengan aqidah, ibadah, mu’amalat, akhlaq, politik, maupun, persatuan. Mereka adalah orang-orang yang kokoh di atas prinsip-prinsip agama dan cabang-cabangnya sesuai dengan apa yang diturunkah Allah kepada hamba dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam. Mereka adalah orang-orang yang tampil untuk berdakwah dengan penuh semangat dan kesungguh-sungguhan. Mereka adalah para pembawa ilmu nabawi yang melumatkan segala bentuk penyelewengan orang-orang yang melampaui batas, kerancuan para penyesat dan takwil jahilin. Mereka adalah orang-orang yang selalu mengintai setiap kelompok yang menyeleweng dari manhaj Islam seperti Jahmiyah, Mu’tazilah, Khawarij, Rafidah (Syi’ah), Murji’ah, Qadariyah, dan setiap orang yang menyeleweng dari manhaj Allah, mengikuti hawa nafsu pada setiap waktu dan tempat, dan mereka tidak pernah mundur karena cercaan orang yang mencerca.”

Ciri Khas Mereka

1. Mereka adalah umat yang baik dan jumlahnya sangat sedikit, yang hidup di tengah umat yang sudah rusak dari segala sisi. Rasulullah bersabda:

“Berbahagialah orang yang asing itu (mereka adalah) orang-orang baik yang berada di tengah orang-orang yang jahat. Dan orang yang memusuhinya lebih banyak daripada orang yang mengikuti mereka.” (Shahih, HR. Ahmad)

Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Madarijus Salikin 3/199-200, berkata: “Ia adalah orang asing dalam agamanya dikarenakan rusaknya agama mereka, asing pada berpegangnya dia terhadap sunnah dikarenakan berpegangnya manusia terhadap bid’ah, asing pada keyakinannya dikarenakan telah rusak keyakinan mereka, asing pada shalatnya dikarenakan jelek shalat mereka, asing pada jalannya dikarenakan sesat dan rusaknya jalan mereka, asing pada nisbahnya dikarenakan rusaknya nisbah mereka, asing dalam pergaulannya bersama mereka dikarenakan bergaul dengan apa yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka”.

Kesimpulannya, dia asing dalam urusan dunia dan akhiratnya, dan dia tidak menemukan seorang penolong dan pembela. Dia sebagai orang yang berilmu ditengah orang-orang jahil, pemegang sunnah di tengah ahli bid’ah, penyeru kepada Allah dan Rasul-Nya di tengah orang-orang yang menyeru kepada hawa nafsu dan bid’ah, penyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran di tengah kaum di mana yang ma’ruf menjadi munkar dan yang munkar menjadi ma’ruf.”

Ibnu Rajab dalam kitab Kasyfu Al Kurbah Fi Washfi Hal Ahli Gurbah hal 16-17 mengatakan: “Fitnah syubhat dan hawa nafsu yang menyesatkan inilah yang telah menyebabkan berpecahnya ahli kiblat menjadi berkeping-keping. Sebagian mengkafirkan yang lain sehingga mereka menjadi bermusuh-musuhan, berpecah-belah, dan berpartai-partai yang dulunya mereka berada di atas satu hati. Dan tidak ada yang selamat dari semuanya ini melainkan satu kelompok. Merekalah yang disebutkan dalam sabda Rasulullah: “Dan terus menerus sekelompok kecil dari umatku yang membela kebenaran dan tidak ada seorangpun yang mampu memudharatkannya siapa saja yang menghinakan dan menyelisihi mereka, sampai datangnya keputusan Allah dan mereka tetap di atas yang demikian itu.”

2. Mereka adalah orang yang berada di akhir jaman dalam keadaan asing yang telah disebutkan dalam hadits, yaitu orang-orang yang memperbaiki ketika rusaknya manusia. Merekalah orang-orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia dari sunnah Rasulullah. Merekalah orang-orang yang lari dengan membawa agama mereka dari fitnah. Mereka adalah orang yang sangat sedikit di tengah-tengah kabilah dan terkadang tidak didapati pada sebuah kabilah kecuali satu atau dua orang, bahkan terkadang tidak didapati satu orangpun sebagaimana permulaan Islam.

Dengan dasar inilah, para ulama menafsirkan hadits ini. Al Auza’i mengatakan tentang sabda Rasulullah: “Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing.” Adapun Islam itu tidak akan pergi akan tetapi Ahlus Sunnah yang akan pergi sehingga tidak tersisa di sebuah negeri melainkan satu orang.” Dengan makna inilah didapati ucapan salaf yang memuji sunnah dan mensifatinya dengan asing dan mensifati pengikutnya dengan kata sedikit.” (Lihat Kitab Ahlul Hadits Hum At Thoifah Al Manshurah hal 103-104)

Demikianlah sunnatullah para pengikut kebenaran. Sepanjang perjalanan hidup selalu dalam prosentase yang sedikit. Allah berfiman:

“Dan sedikit dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”

Dari pembahasan yang singkat ini, jelas bagi kita siapakah yang dimaksud dengan Ahlus Sunnah dan siapa-siapa yang bukan Ahlus Sunnah yang hanya penamaan semata. Benarlah ucapan seorang penyair mengatakan :

Semua orang mengaku telah menggapai si Laila

Akan tetapi si Laila tidak mengakuinya

Walhasil Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman, amalan, dan dakwah salafus shalih.
(Dikutip dari tulisan Al Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An Nawa, judul asli SIAPAKAH AHLUS SUNNAH?. Url sumber http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=23)

Ref: http://salafy.or.id/blog/2003/06/08/siapakah-ahlu-sunnah/

Prinsip utama yang membedakan Ahli Sunnah wal Jamaah dengan golongan lain – atau yang mengaku-aku Ahli Sunnah – adalah komitmen mereka terhadap Sunah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan jamaah sahabat yang diridlai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Adapun gambaran umum Ahli Sunnah wal Jamaah adalah sbb:
1. Ahli Sunnah wal Jamaah mempersatukan agama (ad-dien) melalui ilmu dan amalan lahir dan batin.
Ahli Sunnah wal Jamaah mempersatukan ad-dien secara keseluruhan melalui ilmu, amalan, lahir, dan batin dengan selalu berpegang kepada kemurnian Islam yang dibawa Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dan dipelihara oleh para sahabatnya.
Itikad golongan yang selamat adalah gambaran yang dipredikatkan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dengan keselamatan, sebagaimana sabdanya:
“Ummatku akan terpesah-belah menjadi 73 golongan; yang 72 golongan masuk neraka dan yang satu masuk surga. Golongan ini adalah yang mengikuti jalan hidup seperti yang aku tempuh hari ini dan jalan para sahabat.”

2. Ahli Sunnah wal Jamaah mempersatukan ad-dien secara menyeluruh dan menegakkan ajarannya.
Ahli Sunnah wal Jamaah berhimpun di atas hal itu, karena al-jamaah merupakan sebab dan akibat sekaligus ketaatan dan rahmat, maka memelihara jamaah merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah. Di antara rahmat Allah bagi orang yang mentaati-Nya adalah terpeliharanya jamaah mereka.
Sesungguhnya faktor yang menyebabkan perpecahan tidak lain adalah meninggalkan sebagian dari apa-apa yang diperintahkan-Nya dan berbuat kezhaliman di antara mereka. Oleh karena itu, manhaj (jalan) yang dipegang oleh Ahli Sunah wal Jamaah adalah tepat dan sesuai dengan yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, yaitu mengamalkan ajarannya secara menyeluruh dalam rangka beribadah kepada Allah semata.

3. Ahli Sunnah wal Jamaah adalah golongan tengah dan lurus.
Ahli Sunnah wal Jamaah adalah golongan tengah lagi lurus di antara berbagai kelompok ummat, yaitu antara golongan yang melebih-lebihkan (termasuk menambah-nambahi) dan yang mengurang-ngurangi ketentuan agama.

4. Ahli Sunnah wal Jamaah berpegang teguh kepada Alquran, Sunah, dan Ijma.
Ahli Sunnah wal Jamaah adalah golongan yang taat mengikuti petunjuk dan larangan yang datang dari Allah, bukan dari ajaran yang berasal dari pemikiran atau filsafat manusia.

5. Ahli Sunnah wal Jamaah adalah penerus sejarah bagi penganut agama Islam.
Ahli Sunnah wal Jamaah adalah asal-muasal dalam umat Muhammad. Mereka juga merupakan penerus tabiat alami dan benar bagi pemeluk agama ini, sebagaimana halnya millah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam menjadi penerus alami dan benar bagi millah-millah para nabi pendahulunya.

6. Ahli Sunnah wal Jamaah adalah ahli syariat yang mengikuti Sunah Rasul yang meliputi seluruh aspek ajaran Islam: baik akidah, manhaj-manhaj tinjauan, perbuatan-perbuatan, tujuan-tujuan esensi, ibadah-ibadah, siyasat syar’iyah, maupun lainnya.
Sunah, sebagaimana halnya syariat adalah segala sesuatu yang disunahkan dan disyariatkan Rasul dalam akidah dan amalan, yang keduanya mengandung makna yang sama.

7. Ahli Sunnah wal Jamaah hanya mengambil sumber hukum yang kuat ketetapannya dari Rasul dan Salaf as-Saleh.
Hal itu dapat diketahui berdasarkan pengetahuan tentang hadis-hadis Nabi yang telah menjadi ketetapan, baik dalam perkataan, perbuatan, atau apa-apa yang didiamkan (taqrir/persetujuan).

8. Ahli Sunnah wal Jamaah adalah golongan yang paling mengetahui hal ikhwal Rasul, baik berupa perkataan maupun perbuatan-perbuatannya, serta yang paling besar kecintaan dan loyalitasnya, baik terhadap sunnahnya maupun pendukungnya.
Orang atau golongan yang paling berhak dikategorikan sebagai Firkah an-Najiyah (golongan yang selamat) adalah Ahlul Hadis dan Sunah, yaitu mereka yang tetap mengikuti dan berta’ashub kepada Rasul. Merekalah yang paling mengetahui perkataan Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dan hal ikhwalnya.

Imam-imam mereka adalah orang-orang yang benar-benar mengetahui hadis dan mengerti maknanya, meyakininya, membenarkannya, mengikutinya, mengamalkannya, mencintainya, serta menaruh hormat kepada orang yang menghormatinya dan memusuhi orang yang memusuhinya. Selain itu, mereka memiliki perhatian besar dalam mempertimbangkan antara riwayat-riwayat yang sahih dan lemah.

9. Ahli Sunnah wal Jamaah adalah orang-orang yang mencintai hadis Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dan taat mengikutinya.
Ahli Sunnah dan Ahli Hadis bukanlah mereka yang sekedar sibuk berperan dalam urusan ilmu hadis, namun juga mereka yang mencintai dan mencurahkan perhatian kepadanya, iltizam dengannya, serta menyerukan orang lain agar iltizam kepadanya, baik dia sebagai ahli Hadis, ahli zuhud, ahli ibadah, ahli fikih, pemimpin, ataupun orang umum.

10. Ahli Sunnah wal Jamaah memiliki tingkatan beragam dalam mengetahui Sunah, mengamalkannya, serta bersabar terhadapnya.
Sunnah (as-Sunnah) adalah segala sesuatu yang diterima oleh para sahabat dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, kemudian diteruskan kepada para tabi’in, tabi’it-tabi’in, dan seterusnya sampai hari Kiamat. Sebagian imam juga lebih mengetahui dan lebih mampu bersabar terhadapnya dari sebagian imam yang lain. (Juz 3: 358).

11. Di dalam golongan Ahli Sunnah wal Jamaah terdapat perbedaan dalam ijtihadnya dalam hal-hal yang bersifat cabang (furu’), sesuai dengan tingkat pengetahuan mereka terhadap Sunah.
Ahli Sunnah wal Jamaah menghadapi kenyataan beragamnya pengetahuan yang menyebabkan mereka berbeda dalam berijtihad.

12. Ahli Sunnah wal Jamaah senantiasa berupaya agar perbedaan ijtihad mereka mengarah kepada satu pendapat dan menjaga kerukunan.
Sekalipun terdapat perbedaan dalam ijtihad, mereka saling dapat menjaga dan mengendalikan perilakunya untuk saling menghormati. Mereka memiliki adab yang sopan dalam berbeda pendapat (ikhtilaf). Semua itu mereka lakukan karena menjaga kerangka besar dan prinsipil, yaitu kerangka golongan Ahli Sunah wal Jamaah.
Akan tetapi, terhadap orang atau golongan yang berbeda pendapat dalam hal yang pokok dan mendasar(ushul), mereka tidak menerimanya dan berlepas diri darinya. Mereka dengan keras mengecamnya serta membeberkan kesalahan-kesalahan dan penyelewengannya agar ummat mengetahuinya.

13. Ahli Sunnah wal Jamaah tidak melepaskan kebenaran.
Dalam keadaan bagaimanapun, Ahli Sunnah wal Jamaah tidak melepas kebenaran dari jamaah mereka. Hal ini karena jamaah para Imam dan ulama mereka berdiri tegak memelihara nubuwah untuk menjaga Al-Islam ini, dengan spesialisnya masing-masing. Mereka mengemban tugas sebagai pelanjut para nabi sesuai kemampuan masing-masing. Di antara mereka terdapat para sidikin, syuhada, alim ulama, dan salihin.

14. Ahli Sunnah wal Jamaah adalah kelompok yang mendapat pertolongan.
Ahli Sunah wal Jamaah adalah orang-orang yang berada di bawah naungan petunjuk dan Dien yang benar. Allah telah berjanji untuk membela Dien ini dan mengunggulkannya di atas dien yang lain. Oleh karenanya, Ahli Sunah wal Jamaah adalah golongan yang mendapat pembelaan dan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana yang diberitakan Rasul-Nya:
“Selalu ada sekelompok umatku yang membela kebenaran. Mereka tidak mempedulikan orang-orang yang mengecewakan atau yang menentang mereka sampai datang hari Kiamat.” (Juz 3: 159).
Mereka adalah golongan yang mendapat kemenangan dan selalu membela kebenaran, karena mereka mengikuti petunjuk Dien yang hak (haq).

15. Ahli Sunnah wal Jamaah adalah manusia biasa, di antara mereka ada yang baik (berlaku benar) dan ada yang maksiat.
Ahli Sunnah wal Jamaah adalah manusia biasa, di antara mereka ada sidikin dan syuhada, ada pula yang maksiat dan berbuat tercela. Namun, pada umumnya mereka berperilaku baik, sebagaimana halnya golongan lain yang banyak melakuka keburukan.

Orang-orang yang patut dinisbatkan kepada Sunnah dan Hadis, tentu lebih baik dibandingkan orang-orang atau golongan lain. Golongan Ahli Sunah wal Jamaah di dalam Islam seperti halnya Islam terhadap agala lainnya. Yang terjadi di kalangan mereka juga terjadi di kalangan lainnya: ada kebaikan dan kejahatan. Meskipun demikian, kebaikan yang ada di kalangan Ahli Sunnah wal Jamaah lebih banyak dibandingkan golongan selain mereka.

16. Ahli Sunnah wal Jamaah adalah mayoritas umat Muhammad (jumhur akbar dan Shalallahu ‘alaihi wassalamadul A’zham).
Ahli Sunnah wal Jamaah merupakan mayoritas umat Muhammad yang berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunah Rasul, mencintai para sahabat dan mengambil hadits Nabi dari mereka, baik dalam hal ilmu, amalan, ataupun fikih dan perilaku.

Ciri-ciri khusus akhlak dan perilaku Ahli Sunnah wal Jamaah adalah sebagai berikut.

1. Ahli Sunnah adalah Sebaik-Baik Manusia
Ahli Sunnah, sebagaimana yang kita ketahui, adalah pengemban pusaka peninggalan Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam yang menyangkut aspek ilmu dan amal. Sementara, aspek alamiah yang paling menonjol dalam petunjuk nubuwwah adalah akhlak. Oleh karena itu, akhlak nubuwah seperti cinta dan kasih sayang, keteguhan dan ketabahan dalam berdakwah kepada sesama manusia dan lainnya merupakan ciri khas yang dimiliki oleh golongan yang selamat ini sekaligus sebagai rahmat Allah yang mereka terima. Perilaku seperti ini merupakan pancaran sumber yang dapat membeli pahala kepada Ahli Sunnah.
Muhammad diutus Allah dengan membawa petunjuk sekaligus rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana Allah mengutusnya dengan ilmu, bukti-bukti rasional, dan bukti-bukti pendengaran. Allah juga mengutusnya dengan membawa kebaikan untuk umat manusia, kasih sayang dan rahmat bagi mereka tanpa mengharap imbalan, dan sabar dalam menghadapi cercaan. Oleh karena itu, Allah membekalinya dengan ilmu, kemuliaan serta sifat penyantun: memberi bimbingan dan berbuat baik kepada semua manusia. Dia mengajar, memberi petunjuk, memperbaiki hati, dan menuntun manusia kepada jalan kebaikan di dunia dan akhirat tanpa mengharap imbalan apapun. Ini merupaka sifat semua rasul. Inilah jalan bagi siapa saja yang mau mengikutinya.
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” (Ali Imran: 110)
Abu Hurairah ra berkata, “Kalian adalah sebaik-baik manusia bagi manusia.” Artinya, mereka datang di tengah-tengah manusia untuk menyeru mereka masuk ke dalam surga. Mereka berjihad dengan mengorbankan jiwa dan harta demi kepentingan dan kemaslahatan manusia, sementara manusia tidak menyukai hal itu karena kebodohan mereka.

Mengenai hal ini, Imam Ahmad pun pernah berkata dalam khotbahnya, “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan golongan ahli ilmu yang masih tertinggal–pada setiap masa kosong para rasul–untuk menyeru orang-orang yang telah sesat dari petunjuk Allah. Mereka bersabar atas segala cercaan dan gangguan, menghidupkan hati orang-orang (yang mati karena tidak beriman) dengan kitabullah, serta menjadikan orang yang buta hati “melihat” dengan cahaya Allah. Sehingga banyak orang yang telah “dibunuh” iblis berhasil dihidupkan hatinya, dan banyak orang yang sesat serta ragu mereka berikan bimbingan dan petunjuk. Sungguh alangkah baiknya peranan mereka dalam memperbaiki manusia, dan alangkah buruknya tanggapan manusia kepada mereka, dan seterusnya….!”
Allah SWT sangat menyukai keluhuran akhlak dan sangat membenci keburukan akhlak. Dia menyukai kehati-hatian (kepekaan) ketika merajalelanya syubhat, menyukai keberanian (karena benar) walaupun sekadar membunuh ular. Allah pun menyukai toleransi dan kemurahan hati, meskipun hanya memberikan segenggam kurma. (Juz 16: 313 — 317)

2. Ahli Sunnah Mengikuti Alquran dan Sunnah dalam Seluruh Hubungan Mereka
Ahli Sunah wal Jamaah selalu mengikuti Alquran dan Sunah Rasul, baik dalam perilaku dan langkah-langkah yang mereka tempuh maupun hubungan antara sesama manusia. Mereka menyuruh berlaku sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan, bersyukur ketika mendapatkan kesenangan, rela terhadap keputusan Allah, dan menyerukan agar manusia menyempurnakan akhlak dan amalan-amalan yang baik. Mereka benar meyakini makna sabda Rasulullah, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”
Ahli Sunah wal Jamaah menganjurkan agar menyambung tali persaudaraan, memberi sesuatu kepada orang yang enggan memberi, memaafkan orang yang membuat kesalahan. Mereka menyuruh berbakti kepada orang tua, menyambung tali kerabat, berbuat baik kepada tetangga, berbuat baik kepada anak-anak yatim, orang miskin, ibnu sabil, dan bersikap lembut kepada sahaya. Mereka juga melarang berlaku sombong dan membanggakan diri, serta melarang berbuat keji dan menodai kehormatan makhluk tanpa hak. Mereka menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat jahat. Alhasil, apa-apa yang mereka katakan dan amalkan, termasuk aktifitas lainnya, tidak lain hanyalah mengikuti Alquran dan Sunah Rasul. (Juz 3: 158)

3. Ahli Sunnah adalah Golongan Penyeru Kebaikan dan Pencegah Kemungkaran, disamping selalu Memelihara Keutuhan Jamaah
Hal itu mereka lakukan karena merupakan prinsip utama dan tonggak penting yang menjadikan mereka sebaik-baik umat yang ditampilkan bagi manusia. Mereka menegakkan hal demikian berdasarkan tuntunan syariat, sehingga dalam waktu yang sama sekaligus mereka menunaikan prinsip utama dan menegakkan tonggak penting, yaitu menjaga keutuhan jamaah, menyatukan hati, menyatukan irama dan perkataan, serta menyingkirkan ikhtilaf dan tafaruk.
Mereka menyuruh berbuat baik dan mencegah berbuat kemungkaran berdasarkan tuntunan syariat. Mereka menyuruh menunaikan haji dan jihad, menunaikan salat Jumaat dan Id bersama para pemimpin mereka yang baik maupun durhaka. Termasuk menyuruh agar menjaga keutuhan jamaah serta memberikan nasehat kepada umat. Mereka benar-benar meyakini sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam:
“Orang mukmin terhadap mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan, yang sebagian memperkokoh bagian lainnya.”
Kemudian beliau mengait-ngaitkan jarinya sendiri. Mereka juga meyakini hadis Nabi:
“Perumpamaan kaum mukminin dalam hal kasih sayang dan saling mencintai di antara sesama mereka adalah bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya mengaduh (karena sakit), maka seluruh tubuh merasa demam dan tak bisa tidur.” (Juz 3:158)

Wajib bagi Ulil Amri yang terdiri dari para ulama masing-masing kelompok, para pemimpin, dan tokoh-tokoh umat agar menjalankan kepemimpinannya dengan baik terhadap rakyat mereka. Mereka juga sepatutnya memerintah berdasarkan perintah Allah dan Rasul, serta melarang berbuat kemungkaran berdasarkan larangan Allah dan Rasul. (Juz 3: 423)

4. Ahli Sunnah Selalu Memelihara (keutuhan) Jamaah dan Iltizam Melakukan Ketaatan dalam Kebaikan
Ahli Sunnah menjalankan fungsi ketaatan dan memelihara jamaah berdasarkan ketentuan syariat dan pengamalannya. Maka ketaatan mereka dalam rangka ketaatan kepada Allah, bukan ketaatan dalam bermaksiat kepada-Nya.

Jalan hidup moderat adalah Dienul Islam yang murni dan memerangi orang yang harus diperangi. 2) Berjihad bersama Amir dan kelompok yang lebih mengutamakan (jalan) Islam, jika tidak, tidak ada cara lain kecuali dengan berperang. Tetapi, tidak membantu kelompok yang berperang untuk maksiat kepada Allah.

Mereka harus menaati penguasa dalam menaati Allah, dan tidak menaati mereka dalam bermaksiat kepada-Nya, karena tidak diperkenankan menaati makhluk dalam bermaksiat kepada Khaliq. Inilah jalan terbaik bagi umat ini, Umat dahulu maupun kini, jalan yang seharusnya ditempuh oleh para mukalaf. Jalan ini merupakan jalan tengah antara jalan Hururiyah dan yang semisalnya yang menempuh jalan maksiat dan kerusakan karena sedikitnya ilmu; juga antara jalan Murjiah dan golongan sejenisnya yang menaati pemimpin mereka dengan mutlak, sekalipun pemimpin ini bukan orang baik-baik. (Juz 28:508)

5. Ahli Sunnah Memikul Amanat Ilmu dan Memelihara Jamaah
Dengan demikian, mereka memikul amanat ganda yang salah satunya tidak kurang beratnya di bandingkan yang lain. Pertama, amanat ilmu berupa iltizam, dakwah, dan jihad. Kedua, memelihara (keutuhan) jamaah Islam dalam pengertiannya yang luas (menyeluruh). Mereka menempuh jalan tersebut dengan pertimbangan yang cermat berdasarkan syariat Yang Maha Bijaksana, satu-satunya Rabb yang memiliki aturan yang dapat membebaskan penguasaan hawa nafsu, ikatan adat, cengkeraman mazhab atau jalan tertentu, atau kelompok yang menyerupai hal itu.

Merupakan kewajiban untuk menjelaskan apa yang diturunkan Allah kepada rasul-Nya, menyampaikan segala sesuatu yang dibawa para rasul, serta menepati janji Allah sebagaiman dituntutnya dari para ulama. Oleh karena itu, wajib untuk mengetahui apa-apa yang di bawa para rasul, juga wajib beriman kepada ajarannya, mengajak kepada jalan-Nya, dan berjihad untuk menegakkan agama-Nya. Mereka menimbang seluruh perkataan dan amalan manusia dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul, baik hal-hal yang bersifat prinsip (ushul) maupun cabang (furu’), yang lahir maupun batin; pantang mengikuti hawa nafsu, baik berkaitan dengan adat, mazhab, tarekat, atau kepemimpinan salaf. Mereka juga tidak mengikuti prasangka, baik menyangkut hadis daif atau kias yang keliru – sama saja apakah kias itu menyeluruh atau sekadar tamsil. Juga tidak bertaklid kepada orang yang tidak wajib di ikuti, baik perkataan maupun perbuatannya. Sesungguhnya Allah mencela orang-orang yang mengikuti prasangka dan hawa nafsu dan mereka yang tidak mengikuti petunjuk yang datang dari sisi-Nya. (Juz 12: 467)

6. Loyalitas Ahli Sunnah Hanya untuk Kebenaran
Mereka memandang setiap individu atau kelompok berdasarkan loyalitas terhadap kebenaran, bukan berdasarkan taasub jahili yang bermuara kepada kesukuan, kedaerahan, mazhab, tarekat, tajamu’, atau kepemimpinan. Tidaklah patut bagi seseorang menyandarkan pujian dan cacian, cinta dan kebencian, persahabatan dan permusuhan, doa dan kutukan kepada berbagai nama dan atribut semata, seperti nama-nama suku, daerah (kota), mazab, tarekat, organisasi yang dikaitkan dengan para Imam, tokoh dan syekh (guru atau kiyai), dan sebagainya yang menghendaki pendefinisian.
Barangsiapa yang beriman –dari golongan mana pun– haruslah disikapi dengan loyal; dan siapa yang kafir –dari golongan manapun–mereka wajib dimusuhi. Barangsiapa padanya terdapat keimanan dan kezaliman, maka loyalitas dan kebencian yang diberikan padanya sesuai dengan kadar keimanan dan kezalimannya. Seseorang tidaklah dinyatakan keluar dari iman secara total hanya karena dosa-dosa dan kemaksiatannya, sebagaimana penyataan Khawrij dan Muktazilah. Para nabi, sidiqin, syuhada, serta orang-orang saleh tidaklah disamakan dengan orang-orang fasik dalam hal iman, din, cinta, benci, muwalah, dan muadah. (Juz 28: 227-229)

7. Ahli Sunnah, Saling Memberikan Wala’ kepada Sesama Mereka dengan Loyalitas Secara Umum, dan Saling Memaafkan
Ahli Sunah wal jamaah saling memberikan wala’ satu dengan yang lain secara umum tanpa memandang perbedaan asal, golongan, jamaah, kecenderungan, ataupun ijtihad tertentu. Bagi mereka, yang prinsip dan penting ialah berkeinginan menjadikan jamaah sebagai sesuatu yang utuh, kuat, serta saling memaafkan kekurangan masing-masing; dan mereka tidak cepat melancarkan tuduhan atau saling menyesatkan.
Menjadi kewajiban bagi mereka untuk mendahulukan siapa yang didahulukan oleh Allah dan Rasul, dan mengakhikan sipa pun yang diakhirkan Allah dan Rasul. Membenci siapa saja yang di benci Allah dan Rasul, mencegah segala sesuatu yang dilarang Allah dan Rasul, ridha kepada orang yang di ridhai Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian, diharapkan kaum muslimin menjadi satu kekuatan. Karena kekuatan tidak mungkin terwujud jika sesama mereka saling menyesatkan dan mengafirkan, dan mereka mereasa paling benar dan sesuai dengan Kitabullah dan Sunah. Oleh karena itu, sekalipun seorang muslim telah melakukan kekeliruan dalam satu urusan agama, tidaklah mesti di tuduh kafir atau fasik. Bahkan Allah memaafkan umat ini dari kekeliruan dan kealpaan yang mungkin diperbuatnya. (Juz 3: 426)

8. Ahli Sunnah Menentukan Dukungan dan Permusuhan Berdasarkan Prinsip ad-dien, dan Mereka Tidak Menguji Manusia dengan Sesuatu yang Bukan dari Allah
Ahli Sunnah wal Jamaah tidak menguji manusia tentang perkara-perkara yang sama sekali Allah tidak memberikan kekuasaan padanya. Mereka tidak fanatik berdasarkan nama-nama, syi’ar-syi’ar, lambang-lambang organisasi, atau kepemimpinan, namun mereka memberikan dukungan (waka’) dan sikap permusuhan (mu’adah) berdasarkan prinsip-prinsip agama dan ketakwaan.
Mereka juga tidak berta’ashub (fanatik) kecuali untuk jamaah muslimin dengan pengertiannya yang hakiki, yakni jamaah yang dapat meninggikan panji-panji Alquran dan sunah serta petunjuk salaf saleh yang diridloi Allah.

Dalam hal ini, yang wajib ditolak adalah mengenai peristiwa Yazid bin Mu’awiyah dan fitnah atas kaum muslimin dengan kasus itu, karena sesungguhnya hal ini termasuk bid’ah yang menyalahi ahli Saunah wal Jamaah. Demikian pula memecah belah atau mengelompok-kelompokan umat serta mengujinya dengna sesuatu yang tak ada perintah dari Allah dan Rasul, seperti mengatakan kepada seseorang, “Apakah anda seorang syakili dan Qarfandi?” Karena nama-nama tersebut merupakan nama-nama batil yang tidak diperintahkan Allah, tidak terdapat dalam kitabullah dan sunah, juga bukan atsar salaf umat. Maka jika seorang muslim ditanyai kata-kata seperti itu, hendaklah dia menjawab, “Saya bukan syakili dan bukan Qarfandi, tetapi adalah seorang muslim yang mengikuti kitabullah dan sunah Rasul.” (Juz 3: 414)

Bahkan nama-nama yang muncul di kalangan kaum muslimin yang dikaitkan dengan nama imam (fiqih), seperti pengikut Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali; atau kepada syekh-syekh seperti al-Qadari, al-Adawi, dan lainnya; atau nasab yang dikaitkan dengan suku seperti Qaisy dan Yamami; juga terhadap tempat-tempat seperti asy-Syami, al-Iraqi, dan al-Mishri; maka tidak boleh seseorang menguji orang lain dengan sebutan-sebutan itu.

Demikian juga tidak boleh mengikat persahabatan atau memusuhi seseorang berdasarkan nama-nama tersebut. Karena makhluk yang paling mulia disisi Allah adalah yang paling takwa kepada-Nya, dari mana pun asal kelompoknya. (Juz 3: 416)
Maka bagaimana munkin umat Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam diperbolehkan berselisih dan berpecah belah yang membuat mereka berwala’ kepada satu kelompok dan bermua’dah kepada kelompok lainnya hanya berdasarkan prasangka dan hawa nafsu tanpa bukti-bukti dari Allah? Sedangkan Allah telah membersihkan Nabi-Nya dari perilaku seperti itu. Maka jelaslah perbuatan seperti itu termasuk bid’ah, seperti khawarij yang memisahkan diri dari jamaah kaum muslimin dan menghalalkan darah kaum muslimin yang menentangnya. Adapun Ahli Sunnah wal jamaah senantiasa berpegang teguh pada tali Allah, dan pantang melebihkan seseorang yang berperilaku menuruti kemauan hawa nafsu sementara yang lain lebih bertakwa darinya.

Bagaimana mungkin kita bisa membuat kelompok di tengah-tengah umat dengan nama-nama pembuat bid’ah , yang tidak berdasarkan kitabullah dan Sunah Rasul?
Pengkotakan di antara umat, ulama-ulama, para syekh, para uamar, dan para pembesar patut digolongkan sebagai musuh karena hal demikian meninggalkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, manakala manusia meninggakan sebagian yang diperintahkan Allah, timbullah sikap permusuhan dan kebencian di antara mereka. Sedangkan jika mereka berjamaah, selamat dan berkuasalah mereka. Maka jelas bagi kita, jamaah merupakan rahmat, sedangkan firqah adalah azab (malapetaka). (Juz 3: 419-421).

9. Ahli Sunnah Beramal Berdasarkan Kesatuan Hati dan Kesamaan Kalimat
Ahli Sunnah wal Jamaah senantiasa beramal dalam kerangka kesatuan dan kerukunan serta cinta kebaikan bagi seluruh kaum muslimin. Mereka selalu memaafkan kesalahan dan kekeliruan manusia, menyerukan kebenaran, serta mendoakan manusia agar mendapat petunjuk, bimbingan dan ampunan.

Mereka mengetahui sebagian tonggak-tonggak besar dalam ad-Dien, yaitu kesatuan hati, kesamaan kalimat, dan kebaikan antar sesama. Allah SWT berfirman, “Sebab itu bertakwalah kepada Allah dan berbaiklah hubungan di antara sesamamu.” (Al-Anfal: 1)
Contoh nash-nash seperti itu memerintahkan pentingnya berjamaah dan kerukunan, serta melarang adanya perselisihan dan perpecahan. Orang yang mengikuti prinsip ini termasuklah ke dalam ahlul firqah. Sedangkan pengartian jama’us sunah adalah mereka yang menaati perintah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.

Saya tidak duka jika orang Islam (Mana pun) diganggu dan disakiti apalagi dari sahabat kita sendiri baik yang bersifat lahir dan batin. Saya tidak suka seorang pun dari mereka dicela dan dimaki. Menurut pandangan saya, merek itu harus dimuliakan, dihormati, dicintai, dan dihargai sesuai dengan ukuran masing-masing. Manusia tidak terlepas dari kemungkinan-kemungkinan sebagai mujtahid yang benar, mujtahid yang salah dalam berijtihad, dan seorang yang berbuat dosa. Mereka yang pertama tentu akan mendapatkan pahala ijtihadnya sekaligus pahala kebenarannya (patut mendapat ucapan terima kasih); yang kedua akan mendapatkan pahala ijtihadnya dan dimaafkan kesalahannya, serta mereka mendapatkan ampunan; sedangkan yang ketiga, Allah akan mengampuni kita, mereka, dan seluruh orang beriman. Perlu diketahui, kita seharusnya saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, wajib bagi kaum muslimin untuk membela sebagian yang lainnya dengan pembelaan yang sebemarya.
Kami mencintai bagi seluruh kaum muslimin, dan menginginkan setiap mukmin memperoleh kebaikan sebagaimana hal itu kami sukai buat kami sendiri. Kami menghendaki agar orang yang mempunyai maksud baik, mensyukuri maksud baik mereka; dan yang suka beramal saleh mensyukuri amalan mereka. Sedangkan bagi pelaku keburukan, kami memohon kepada Allah semoga dosa mereka diampuni. (juz 28: 50-57)

10. Ahli Sunnah Meninjau Permasalahan Ilmiah dan Amaliah dengan Memperhatikan Kerukunan dan Kesatuan

Para ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, dan pengikut setelah mereka, ketika mengalami perselisihan pendapat dalam suatu masalah, mereka mengikuti perintah Allah , sebagaimana firman-Nya yang artinya, “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasul (Sunahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu leibh utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa: 59)
Mereka saling memberikan pandangan dalam persoalan-persoalan ilmiah dan amaliah dengan memperhatikan keutuhan persatuan dan persaudaraan agama, serta terlindung dari kesalahan. (Juz 24: 172)

(Dikutip dari Ahlus Sunnah wal Jamaah Ma’alimul Inthilaqah al-Kubra, Muhammad Abdul Hadi al-Mishri)

Ref: http://salafy.or.id/blog/2004/01/15/istilah-istilah-penting-ciri-ciri-ahlusunnah-wal-jamaah/


(Transkrip kaset side A)

Ibrahim: Dengan nama Allah, segala puji hanya bagi Allah, dan shalawat dan salam dari Allah kepada Rasulullah . Amma ba`d: Sungguh-sungguh, Allah ta`ala telah melimpahkan atas kita berkah iman, dan dia telah mengaruniakan seluruh ummat Islam dengan pada ulama yang telah Allah muliakan dengan ilmu- sehingga mereka bisa menunjuki manusia menuju jalan Allah dan menuju penyembahan kepada Allah Azza wa Jalla.

Dan mereka adalah pewaris para nabi, tanpa ragu. Alasan untuk kedatangan kita ke sini, InsyaAllah, pertama kali untuk mencari keridhoan Allah, dan kedua untuk mencari ilmu yang pada akhirnya mengarahkan kita kepada keridhoan Allah.

Sungguh demi Allah, ini adalah saat yang membahagiakan ketika kita bisa berkumpul dengan Syaikh kita dan Ulama kita, dan guru besar kita, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany.

Pertama-tama atas nama masyarakat ini, kami ingin menyambut Syaikh kami yang mulia, dan demikian juga atas nama orang-orang yang mendengar, terutama mereka para tholabul `ilmi, mereka juga mengirim ucapan selamat datang dan mereka memiliki keinginan untuk berkumpul sekarang dengan guru kita yang mulia. Dan tanpa ragu, seluruh kita memiliki keinginan yang sama untuk mendengar ilmu dan kebijaksanaan yang dia miliki.

Jadi, mari kita dengarkan dia dalam apa-apa yang Allah telah berkahi dia dari ilmu. Dan ketika Syaikh kita memutuskan untuk menutup pelajaran, forum pertanyaan akan dibuka, tapi pertanyaan harus ditulis, dan kertas tersedia serta sedang disebarkan, InsyaAllah.

Kami ulangi lagi, ini adalah saat yang membahagiakan dan kami ucapkan, ahlan, selamat datang, kepada Syaikh kita yang mulia

Syaikh: Ahlan bikum. Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kita memujiNya, kita mohon pertolonganNya, dan kita mohon maghfirohNya. Dan kita mohon perlindunganNya, dari kejahatan diri-diri kita dan kejahatan amal-amal kita. Siapa yang Allah tunjuki, tiada seorangpun yang dapat menyesatkannya dan siapa yang disesatkanNya, tiada yang dapat menunjuki. Aku bersaksi bahwa tiada yang berhak untuk disembah melainkan Allah, sendiri dan tidak bersekutu dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.

Amma ba`d, sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah, dan sebaik-sebaik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shalallahu `alahi wa sallam. Dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan. Dan setiap perkara yang diada-adakan adalah bid`ah. Dan setiap bid`ah adalah setiap kesesatan setiap kesesatan ada di neraka .

Saya berterimakasih pada Al-Akh, Ustadz Ibrahim, atas kata-kata dan pujiannya Dan saya tidak punya apa-apa untuk dikatakan sebagai balasannya, kecuali dengan mengikuti contoh dari khalifah pertama, Abu Bakr Ash-Shiddiq Radhiyallahu`anhu, yang merupakan khalifah pertama yang sebenarnya dari Rasulullah dengan hak yang benar.

Tetapi walaupun begitu, ketika dia mendengar seseorang yang memujinya dengan sesuatu yang baik dan dia percaya bahwa pujian ini, tanpa memandang datang dari siapa, dilakukan secara berlebihan dan ini ketika dia menjadi khalifah Rasulullah dan berhak mendapatkannya-walaupun begitu- [terdengar suara tangisan]- walaupun begitu, dia mengatakan:

“Ya Allah, jangan anggap aku bertanggungjawab atas apa yang mereka ucapkan (tentang aku), dan buatlah aku lebih baik dari apa yang mereka rasa (aku menjadi seperti itu). Dan maafkanlah aku atas apa-apa yang tidak mereka tahu (tentangku).”

Aku akan tambahkan pada ini, dengan mengatakan bahwa aku bukanlah apa yang digambarkan dalam apa-apa yang baru saja kalian dengar sebelumnya dari saudara kita yang mulia Ibrahim. Melainkan aku hanyalah seorang murid pencari ilmu, bukan yang lainnya. Dan atas setiap murid untuk tunduk pada hadits nabi : “Sampaikanlah dariku meskipun hanya satu ayat. Dan ceritakanlah dari (cerita-cerita) suku Isra`il karena yang demikian tidak berdosa. Dan siapa yang berbohong atas namaku dengan sengaja, biarkanlah dia siapkan tempat duduknya di dalam neraka.”

Jadi berdasarkan hadits, dan mengikuti teks nabawiyyah agung ini, sebagaimana teks-teks lain dari kitab Allah dan hadits Rasulullah , kami mengambil tugas untuk mengungkapkan pada manusia apa yang mereka kurang ketahui. Tapi ini bukan berarti kami telah menjadi sesuatu seperti yang ditemukan dari pikiran-pikiran baik yang (beberapa) saudara-saudara kami anggap ada pada kami. Masalahnya bukan itu. Ini adalah kenyataan yang saya rasakan sangat mendalam di dalam hatiku. Kapanpun saya dengar pembicaraan macam ini, saya teringat pada ungkapan lama, yang dikenal baik di kalangan ulama:

“Sesungguhnya si burung kecil (bughats) di tanah kami sekarang telah menjadi seekor elang.”

Beberapa orang tidak waspada akan apa yang dimaksudkan oleh pernyataan ini, atau oleh ungkapan ini. Si bughats yaitu burung kecil yang tidak berharga tapi burung kecil ini menjadi seperti seekor elang bagi manusia- karena kebodohannya

Ungkapan ini benar, tentang banyak orang yang berda`wah pada Islam, baik di atas kebenaran, dan cara yang benar atau di atas kesalahan dan dusta. Tapi Alla mengetahui bahwa seluruh dunia muslim hampa kecuali untuk sangat sedikit orang, yang mana benar untuk mengatakan tentang mereka bahwa “si fulan adalah seorang ulama.” Sebagaimana dinyatakan dalam hadits shahih, yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary dalam shahihnya dari riwayat Abdullah bin `Amr bin Al-`Ash rodhiyAllahu`anhu, yang berkata, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak akan merampas ilmu dari dada para Ulama, melainkan Dia akan mengambil `Ilmu dengan mengambil para Ulama. Sampai tidak ada lagi Ulama ini intinya- sampai tidak ada lagi Ulama, manusia akan mengambil pemimpin yang bodoh, yang akan ditanyai pertanyaan-pertanyaan dan kemudian memberi fatwa tanpa ilmu. Sehingga mereka sesat dan menyesatkan.”

Ketika Alloa hendak mengambil `Ilmu, Dia tidak akan merampasnya dari hati para Ulama, sehingga Ulama tersebut menjadi seseorang yang tidak pernah belajar apapun pada awalnya, tidak.
Ini bukanlah Sunnatullah (cara Allah) ketika berurusan dengan hambaNya, khususnya hambaNya yang shalih mengambil ilmu yang mereka capai untuk Allah `Azza wa Jalla Allah itu Maha Adil dalam aturan-aturanNya- Dia tidak merampas ilmu dari hati para Ulama sejati. Melainkan, merupakan sunnatullah dengan makhluk-Nya adalah bahwa Dia mengambil ilmu dengan mengambil para Ulama [yaitu mematikan mereka] , sebagaimana Dia lakukan terhadap penghulu semua Ulama, Nabi, dan Rasul, Muhammad. “Sampai tidak tersisa lagi Ulama, manusia akan mengambil pemimpin-pemimpin bodoh, yang akan ditanyai pertanyaan-pertanyaan dan kemudian memberi fatwa tanpa ilmu. Sehingga mereka sesat dan menyesatkan.”

Ini bukan berarti Allah akan meninggalkan bumi dengan hampa akan Ulama, yang mana bukti dari Allah bisa dilaksanakan atas hambaNya, melainkan artinya bahwa semakin waktu berlalu, semakin ilmu akan menurun .
Dan kita akan terus-menerus meningkat dalam masalah ini yang mana ilmu sedikit dan kurang, sampai tidak ada lagi di muka bumi ini orang yang berkata “Allah, Allah.” Kalian dengar hadits ini berulang kali dan ini adalah hadits shahih: “Kiamat tidak akan terjadi sementara masih tersisa seorang di muka bumi ini yang berkata: “Allah,Allah”.”
Yang dimaksud dengan manusia yang disebutkan pada bagian akhir dari hadits: “Sampai tidak ada lagi Ulama, orang-orang akan mengambil pemimpin yang bodoh” adalah para pemimpin yang memahami Al-Qur`an dan As-Sunnah dengan pemahaman yang berlawanan dengan para Ulama. Saya tidak akan katakan mereka di masa lalu saja,tapi juga yang sekarang- berada di atasnya.

Maka sungguh, mereka menggunakan hadits “Allah, Allah” ini sebagai bukti untuk pembolehan, dan bukannya rekomendasi berdzikir dengan kata-kata tunggal “Allah, Allah, Allah, dan seterusnya [sebagaimana dilakukan oleh kaum Sufy] . Sampai tidak seorangpun tetap tertipu atau tak waspada ketika mereka mendengar hadits ini dengan kesalahan dalam memahaminya, saya pikir adalah tepat, bahkan jika sambil lalu, mengingatkan saudara-saudara kita di sini bahwa pemahaman ini salah, pertama karena penjelasan hadits ini dinyatakan dalam riwayat lain dari Rasulullah . Dan kedua, jika interpretasi ini benar, maka akan ada petunjuknya dalam tidakan Salafus-Shalih kita, Radhiyallahu`anhum. Sehingga jika mereka tidak melakukannya.

Penolakan mereka dari beramal berdasarkan pemahaman ini menunjukkan kepalsuan dari pemahaman semacam ini. Sehingga akan jadi bagaimana bagi kalian jika riwayat lain dari hadits ditambahkan, dan intisarinya, sebagaimana umumnya dikatakan, bahwa Imam Ahmad rohimahullah, meriwayatkan hadits ini dalam musnadnya, dengan sanad yang shahih dengan kata-kata: “Kiamat tidak akan terjadi sementara masih tetap ada seseorang di muka bumi ini yang berkata “Laa Ilaaha Illallah”.”

Jadi inilah yang diinginkan dalam hadits pertama, di mana kata “Allah” ditunjukkan dalam pengulangan. Intinya pada sekarang ini, dunia ini sayangnya hampa akan ulama-ulama semacam itu yang biasa mengisi bumi dengan Ilmu mereka yang luas dan yang mau menyebarluaskannya di antara manusia. Jadi sekarang ini telah seperti perkataan:

Ketika dihitung mereka sangat sedikit
Tapi sekarang mereka telah menjadi lebih sedikit dari sedikitnya yang dulu

Jadi kita mohon pada Allah `azza wa jalla, supaya Dia menjadikan kita di antara para pencari ilmu yang benar-benar mengambil dari contoh-contoh para Ulama dan dengan rendah hati mengikuti jalan mereka. Inilah yang kita harap dari Allah `azza wa jalla bahwa Dia menjadikan di antara kita dari kalangan para murid yang mengikuti jalan tersebut, seperti yang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam sabdakan: “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan jalannya ke surga.”

Ini mengarahkan kita pada pembahasan topik pengetahuan ini, yang telah disebutkan dalam Al-Qur`an pada banyak tempat, seperti firman Allah: “Apakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui.” [Az-Zumar: 9]

Dan firman Allah: “Allah akan meninggikan orang-orang beriman dan berilmu di antaramu dan orang-orang yang diberi pengetahuan beberapa derajat..” [Al-Mujadilah: 11]

Pengetahuan apakah ini yang Allah telah memberikan pujianNya pada mereka yang memilikinya dan beramal atasnya dan mereka yang mengikuti jalannya orang-orang ini ? Jawabnya adalah sebagaimana Imam Ibnu`l Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah, murid dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Ilmu adalah Allah berfirman, Rasulullah bersabda, para shahabat berkata. Dan bukan kesimpangsiuran. Ilmu itu bukanlah kita terburu-buru pada ketidaksetujuan secara bodoh antara Rasulullah dan antara pendapat seorang faqih (Ulama). Tidak, dan kami tidak mengingkari dan meniadakan sifat-sifat (Allah), melainkan karena takut terjatuh kepada tasybih dan tamtsil.”

Jadi kita mengambil pengertian ilmu dari pernyataan dan sajak ini, yang jarang kita dengar di antara syair-syair puisi, karena puisinya Ulama tidak seperti puisinya penyair. Jadi orang ini (Ibnul Qayyim) adalah seorang Ulama dan dia juga menulis puisi yang bagus. Jadi dia katakan: Ilmu itu adalah apa yang Allah firmankan pada tingkat pertama, kemudian apa yang Rasulullah katakan pada tingkat kedua, kemudian apa yang para shahabat katakan pada tingkat ketiga. Kata-kata Ibnul Qoyyim mengingatkan kita pada kenyataan yang sangat penting, yang seringkali diabaikan oleh kebanyakan para da`i yang tersebar di seluruh daratan sekarang ini atas nama da`wah pada Islam.

Apa kenyataannya ? Apa yang dikenal baik dari para da`i ini adalah bahwa Islam terdiri atas: Kitabullah, Sunnah Rasulullah. Ini adalah benar dan tidak ada keraguan padanya, akan tetapi hal ini kurang sempurna. Dan kekurangsempurnaan ini dicatat oleh Ibnul Qayyim dalam baris puisinya yang baru saja kita sebutkan. Karena itulah kenapa setelah menyebut Al-Qur`an dan As-Sunnah, dia menyebut para shahabat. “Ilmu adalah Allah berfirman, Rasulullah bersabda, para Shahabat berkata”.

Sekarang ini sangat jarang kita dengar seseorang menyebut para shahabat setelah menyebut Al-Qur`an dan As-Sunnah. Dan seperti kita ketahui, mereka berada pada puncak Salaf As-Shalih (pendahulu yang shalih), yang Nabi katakan dalam sabda beliau, yang telah diriwayatkan dari banyak shahabat: “Manusia terbaik adalah generasiku”“

Dan jangan katakan seperti kebanyakan para da`i sekarang ini ucapkan: “Generasi terbaik.” Fase ini “Generasi terbaik” tidak memiliki sumber dalam Sunnah. Sunnah yang shahih, yang dinyatakan dalam kedua shahih (Bukhary dan Muslim) dan referensi hadits lainnya meriwayatkan hadits tersebut dengan kata-kata: “Manusia terbaik adalah generasiku, kemudian yang datang setelahnya, kemudian yang datang setelahnya.”

Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah telah menghubungkan para shahabat yang merupakan puncak dari 3 generasi yang dipersaksikan keunggulannya- pada Al-Kitab dan As-Sunnah. Jadi apakah hubungan ini yang dia buat merupakan opininya, atau pengambilan kesimpulan keulamaan, yang seluruhnya mudah salah. Jawabannya adalah tidak, ini bukanlah dari pengambilan kesimpulannya yang mungkin terjadi kesalahan padanya, melainkan berdasarkan Kitabullah, dan hadits Rasulullah . Sedangkan dari Al-Qur`an, maka ini adalah firman Allah `Azza wa Jalla: “Dan barangsiapa yang menyelisihi Rasul setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam tu seburuk-buruk tempat kembali.” [Al-Ma`idah: 115]

Saya berharap ayat ini diingat dengan kuat dalam pikiran-pikiranmu dan hati-hatimu, dan saya harap kalian tidak melupakannya, karena itu adalah kebenaran. Dan dengannya, kalian akan terselamatkan dari menyimpang ke kanan atau ke kiri dan kalian akan terselamatkan bahkan dalam salah satu aspek atau beberapa permasalahan- dari terjatuh kepada salah satu kelompok yang tidak terselamatkan, atau salah satu dari kelompok menyimpang . Ini dikarenakan Nabi bersabda dalam hadits yang terkenal, yang saya akan singkat supaya mendapatkan bagian yang relevan dengan pembahasan kita:

“Dan ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan “Semuanya berada di neraka, kecuali satu.” Para shahabat berkata: Siapakah itu wahai Rasulullah ? beliau bersabda: “Mereka adalah al-Jama`ah.”

Jama`ah yang dimaksud adalah “Jalannya orang-orang mukmin.” Jadi hadits tersebut “jika bukan wahyu langsung dari Allah kepada Qolbu Nabi , maka itu pasti turunan dari ayat yang sebelumnya telah disebut. “Dan dia mengikuti jalan selain jalannya orang-orang mukmin.” Jadi jika orang tersebut yang “menyelisihi Rasul” dan “mengikuti jalan selain jalannya orang-orang mukmin” diancam dengan neraka, maka yang sebaliknya juga benar.

Maka siapapun yang mengikuti “jalannya orang-orang beriman” maka dia dijanjikan surga, dan tidak ada keraguan padanya. Jadi ketika Rasulullah menjawab pertanyaan tentang golongan mana yang merupakan golongan yang terselamatkan, beliau bersabda: “Al-Jama`ah.”

Dengan demikian Al-Jama`ah adalah kelompok muslim tersebut. Kemudian dinyatakan dalam riwayat lain dari hadits ini, yang mendukung pengertian ini, bahkan, menambah penjelasan dan keterangan yang lebih padanya. Nabi bersabda: “Yaitu apa-apa yang aku dan para Shahabatku ada di atasnya.”
Maka dengan begitu “Para shahabatku” adalah “jalannya orang-orang mukmin.” Jadi ketika Ibnu`l Qoyyim menyebutkan para shahabat dalam baris puisinya yang baru saja kita sebutkan sebelumnya, dia hanya mengambil pemahaman itu dari ayat yang baru saja kita sebut dan hadits ini.

Juga dikenal baik hadits Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu`anhu, yang juga akan saya perpendek untuk menyebut bagian yang relevan dengan diskusi kita, sehingga kita punya cukup waktu untuk menjawab pertanyaan nanti. Beliau bersabda: “Maka peganglah erat-erat Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku.”

Disini kita temukan contoh yang sama seperti hadits yang kita sebut sebelum ini danjuga ayat sebelumnya. Rasul tidak menyatakan “peganglah erat-erat Sunnahku” saja, melainkan beliau hubungkan kepada Sunnah beliau, Sunnahnya Khulafaur rosyidin yang mendapatkan petunjuk .

Maka kami katakan, khususnya di saat ini di mana kita temukan pandangan-pandangan yang berselisih, dan ideologi-ideologi, dan madzhab-madzhab dan banyaknya hizb-hizb dan kelompok-kelompok, yang membuat banyak pemuda muslim mulai hidup dalam kebingungan.

Dia tidak tahu pada kelompok mana dia harus menisbatkan dirinya. Jadi disini kami telah memberikan jawaban dari ayat dan dua hadtis yang baru saja kita sebutkan. “Ikutilah jalannya orang-orang mukmin!” Jalan orang-orang mukmin dari masa kini Jawabnya tidak, yang kami maksudkan di sini adalah orang-orang mukmin di masa lalu “generasi pertama – generasi para shahabat Salafus Shalih (pendahulu yang shalih)- . Mereka adalah orang-orang yang harus kita ambil sebagai contoh dan orang-orang yang harus kita ikuti. Dan tidak sama sekali tak ada yang menyamai mereka di muka bumi. Karena itu, inti dari da`wah kami adalah berdasarkan tiga pilar “Al-Qur`an, As-Sunnah, dan mengikuti Salafus Shalih (pendahulu yang shalih).

Jadi siapapun yang mengaku mengikuti Al-Qur`an dan As-Sunnah, namun dia tidak mengikuti Salafus Shalih, dan dia menyatakan baik dalam perkataan dan perbuatan: “Mereka manusia dan kita juga menusia” [maksudnya, para shahabat dan mereka adalah sama], maka orang ini berada dalam penyimpangan dan kesesatan. Kenapa” Karena dia tidak mengikuti teks ini, yang baru saja kami ceritakan pada kalian. Apakah dia mengikuti jalannya orang-orang mukmin ? Tidak. Apakah dia mengikuti para shahabat Rasulullah? Tidak. Apa yang dia ikuti ? Dia ikuti hawa nafsunya dan dia mengikuti akalnya. Apakah akal seseorang sempurna dan terbebas dari kesalahan ? Jawabannya tidak. Maka dengan begitu, dia itu berada di atas kesesatan yang nyata.

Saya percaya bahwa alasan bagi banyak terwarisinya perbedaan yang ditemukan pada golongan-golongan yang dikenal dengan baik di masa lalu dan perbedaan yang muncul saat-saat ini adalah karena kurang kembalinya pada sumber ketiga ini, yaitu Salafus Shalih.

Jadi siapapun yang mengaku mengikuti Al-Qur`an dan As-Sunnah, dan bagaimana seringnya telah kita dengar perkataan semacam ini dari para pemuda yang kebingungan, ketika mereka berkata: “Ya akhi, wahai saudara, orang ini mengaku mengikuti Al-Qur`an dan As-Sunnah dan orang itu mengaku mengikuti Al-Qur`an dan As-Sunnah.” Jadi apa pembeda yang jelas dan menentukan” Adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah dan manhaj (metodologi) Salafus Shalih. Jadi siapapun yang mengikuti Al-Qur`an dan As-Sunnah tanpa mengikuti Salafus Shalih, dia sebenarnya tidak mengikuti Al-Qur`an dan As-Sunnah, melainkan dia hanya mengikuti akalnya, jika bukan hawa nafsunya. (Bersambung ke Inilah Da’wah Salaf, Side B)

Sumber: Sebuah Kaset yang berjudul Hadzihi Da`watuna (Inilah da`wah kami), yang direkam dalam bahasa Arab dan didistribusi oleh Syuur Lil Intaaj Al-Islamy dan kemudian diterjemahkan dan ditulis ke dalam bahasa Inggris oleh al-manhaj.com.

Artikel ini merupakan terjemahan yang telah diedit dari kaset sebenarnya untuk bacaan yang lebih baik. Diterjemahkan ke dalam format artikel (bahasa Inggris) oleh Abu Maryam. Diproduksi oleh al-manhaj.com.

(Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Rasyid. PERINGATAN : Website al-manhaj.com kini menjadi penjejak Abul Hasan mubtadi’)
Lanjutan (Side B)
Saya akan menghadirkan beberapa contoh untuk menjelaskan pembicaraan ini, yang mana ini merupakan poin penting, yang mana hal itu adalah (mengikuti) manhaj Salafus Shalih. Ada sebuah pernyataan yang diriwayatkan dari Al-Faruq Umar ibn`l Khatthab Radhiyallahu`anhu, yang mengatakan: Jika orang-orang ahlul bid`ah dan ahlul ahwa` mendebatmu dengan Al-Qur`an, maka debatlah mereka dengan sunnah. Apa yang menjadikan Umar Radhiyallahu`anhu membuat pernyataan demikian, ini karena firman Allah yang mana Dia berbicara pada Nabi : “Dan Kami telah turunkan Adz-Dzikr (Sunnah) agar kamu (Wahai Muhammad) memberi penjelasan pada orang-orang terhadap apa yang telah diturunkan pada mereka dan supaya mereka memikirkan.” [An-Nahl: 44]

Apakah seorang muslim, yang mengetahui secara mendalam bahasa Arab, mengetahui tata bahasa dan aturannya, apakah orang ini mampu memahami Al-Qur`an tanpa menggunakan cara Rasul kita (Shalallahu ‘alaihi wasallam) ? Jawabannya adalah tidak. Dan jika ini bukan begitu, maka firman Allah “Supaya kamu (wahai Muhammad) memberikan penjelasan pada manusia akan apa-apa yang telah diturunkan pada mereka”, tidak akan memiliki makna apa-apa. Dan ucapan Allah hampa dari ketidakbermaknaan padanya. Maka dari itu, siapapun yang ingin memahami Al-Qur`an dengan cara selain cara Rasulullah (Shalallahu “alaihi wasallam), dia telah sesat dengan jauh.

Lebih jauh lagi, apakah orang yang sama ini (yang disebutkan di atas) mampu untuk mengerti Al-Qur`an dan As-Sunnah melalui selain cara para shahabat Rasulullah. Jawabannya adalah tidak. Ini dikarenakan, mereka (para shahabat) adalah orang-orang yang meneruskan pada kita, pertama ayat-ayat Al-Qur`an, kedua, mereka meneruskan pada kita, penjelasan Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi wasallam) (terhadap Al-Qur`an), yang telah disebut di ayat yang sebelumnya sebagaimana juga pengamalan beliau terhadap Al-Qur`an Al-Karim ini.

Penjelasan Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi wasallam) (terhadap Al-Qur`an) dapat dibagi menjadi 3 kategori:
1) ucapan,
2) perbuatan, dan
3) persetujuan (dengan diam).
Siapa orang-orang yang meneruskan (pada kita) ucapan beliau (Shalallahu ‘alaihi wasallam)shahabatnya. Siapa orang yang meneruskan (pada kita) perbuatan beliau (Shalallahu ‘alaihi wasallam) shahabat beliau. Siapa yang meneruskan (pada kita) persetujuan dengan diamnya beliau (Shalallahu ‘alaihi wasallam)shahabat beliau. Jadi karena itulah, tidak mungkin bagi kita untuk tergantung semata-mata pada kemampuan linguistik untuk memahami Al-Qur`an. Tapi ini bukanlah berarti kita tidak membutuhkan bahasa (Arab) dalam masalah ini, bukan.

Inilah mengapa kita yakin dengan sangat bahwa orang-orang yang berbicara dalam bahasa non-Arab, yang tidak menguasai bahasa Arab, jatuh pada banyak, banyak kesalahan. Hal ini juga terutama, mereka jatuh kepada kesalahan fundamental ini, karena tidak kembali pada Salafus Shalih dalam memahami Al-Qur`an dan As-Sunnah.

Saya tidak memaksudkan dengan perkataan saya tadi bahwa kita tidak bisa bergantung pada bahasa (Arab) dalam menjelaskan Al-Qur`an. Bagaimana bisa karena jika kita mau memahami kata-kata bahasa Arab, maka tanpa ragu, kita harus memahami bahasa Arab. Begitu pula, untuk memahami Al-Qur`an dan As-Sunnah, seseorang harus mengetahui bahasa Arab.

Jadi kami katakan bahwa penjelasan Rasul , yang disebutkan dalam ayat sebelumnya, dibagi menjadi 3 kategori: ucapan, perbuatan, dan persetujuan dengan diam. Kami akan hadirkan satu contoh, untuk memahamkan bahwa pembagian ini adalah kenyataan yang ada, yang tidak bisa diingkari. Allah berfirman: “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya “ [Al-Ma`idah: 38]”

Lihatlah sekarang bagaimana tak mungkin bagi kita menjelaskan Al-Qur`ann berdasarkan bahasa saja. Pencuri, menurut bahasa adalah seseorang yang mencuri harta benda dari tempat-tempat terlarang, tak memandang apakah benda tersebut bernilai atau tidak. Misalnya seseorang mencuri sebutir telur dan sepotong roti ini menurut bahasa (Arab) dianggap sebagai pencuri. Allah berfirman “Dan (bagi) pencuri laki-laki dan pencuri perempuan, potonglah tangan keduanya.”

Apakah setiap orang yang mencuri harus dipotong tangannya ? Jawabnya tidak. Kenapa ? Ini karena orang yang menjelaskannya (yaitu Nabi), yang bertugas menjelaskan yang sedang dijelaskan adalah Al-Qur`an. Beliau bersabda: “Jangan potong tangan kecuali untuk (seseorang yang mencuri) seperempat dinar dan apa yang di atasnya.”
Jadi siapapun yang mencuri sesuatu yang kurang dari seperempat dinar, meskipun menurut bahasa dia disebut pencuri, tapi dia tidak dianggap pencuri menurut definisi Syar`i.

Jadi di sini, kita sampai pada realita yang berdasarkan `Ilmu, yang banyak tholabul `Ilmi tidak waspada. Pada satu sisi kita punya bahasa Arab, yang telah diturunkan dari generasi ke generasi. Dan pada sisi lain, kita punya bahasa syar`i, yang Allah sendiri telah mengistilahkannya, dan menjelaskannya, yang orang-orang Arab berbicara dalam bahasa Al-Qur`an (yaitu bahasa Arab), dan Al-Qur`an yang diturunkan pada mereka- tidak waspada sebelumnya.

Apabila pencuri ini diterapkan menurut bahasa (Arab), ini mencakup semua pencuri. Tapi jika pencuri ini disebutkan menurut istilah syar`i, maka tak semua pencuri termasuk, melainkan hanya mereka yang mencuri apa yang setara dengan seperempat dinar dan apa-apa yang ada di atasnya.

Maka ini adalah sebuah contoh aktual yang tidak mungkin bagi kita untuk tergantung semata-mata dengan pengetahuan bahasa Arab dalam memahami Al-Qur`an dan As-Sunnah. Ini adalah kesalahan yang banyak penulis-penulis kontemporer terjatuh padanya sekarang ini.
Mereka meletakkan pengetahuan bahasa Arab di atas ayat-ayat Al-Qur`an dan hadits nabi. Jadi mereka memahami teks-teks syar`i ini dan datang dengan pemahaman bid`ah, yang ummat Islam belum pernah dengar di masa lalu.

Karena ini kami katakan, adalah kewajiban, untuk mengerti bahwa da`wah yang sebenarnya kepada Islam, berdasarkan 3 prinsip dan dasar fundamental, yaitu
1) Al-Qur`an,
2) As-Sunnah, dan
3) Jalan pemahaman Salafus Shalih.
Sehingga ayat “Dan (bagi) tiap pencuri laki-laki dan pencuri perempuan” bukan untuk dipahami menurut persyaratan bahasa, melainkan persyaratan bahasa syar`i, yang menyatakan: “Jangan potong tangan kecuali untuk (seseorang yang mencuri) seperempat dinar dan apa-apa yang ada di atasnya.”

Kalimat berikutnya dari ayat tersebut menyatakan: “Potonglah tangan-tangan mereka.” Apa itu tangan menurut bahasa” Semua ini dianggap tangan “ Dari ujung jari sampai ketiak- semua ini adalah tangan. Jadi apakah tangan tersebut harus dipotong dari sini atau dari sini atau dari sini”

Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi wasallam) telah menjelaskan ini pada kita dengan perbuatan beliau [yaitu untuk dipotong dari pergelangan tangannya]. Kita tidak punya hadits yang secara jelas mendefinisikan dari tempat mana kita harus memotong, dari penjelasan Rasul lewat ucapan. Namun, diungkapkan penjelasan beliau lewat perbuatan aplikasi fisik beliau.

Bagaimana kita bisa tahu penerapan ini ? Yakni dari Salafus Shalih kita para shahabat nabi. Ini adalah kategori kedua, yakni penjelasan oleh perbuatan.

Yang ketiga adalah persetujuan Rasul untuk sesuatu yg tidak dia tolak atau larang. Persetujuan ini bukanlah ucapan beliau atau perbuatan yang datang dari beliau, melainkan perbuatan orang lain, yang beliau lihat dan setujui.

Jadi jika Rasul melihat sesuatu dan beliau tetap diam tentangnya, menyetujuinya, hal itu menjadi sesuatu yang disetujui dan diizinkan. Tapi jika beliau melihat sesuatu dan menolaknya, walaupun hal ini dilakukan oleh beberapa shahabat beliau, akan secara shahih tercantum dalam teks bahwa beliau melarangnya, maka larangan ini mendahului apa yang telah beliau setujui.

Saya akan memberi contoh untuk dua hal ini, berdasarkan hadits-hadits.

`Abdullah Ibn Umar Ibn`l Khatthab radhiyallahu`anhu berkata: “Kami biasa minum ketika berdiri dan makan ketika berjalan selama hidup Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi wasallam) .”

Jadi di dalam hadits ini, `Abdullah telah menginformasikan kita 2 hal:
1) Minum sambil berdiri, dan
2) Makan sambil jalan.

Dan dia menyatakan bahwa kedua hal ini dilakukan ketika masa Nabi . Jadi apa fiqih terhadap 2 masalah ini: minum sambil berdiri dan makan sambil berjalan.

Jika kita terapkan poin-poin yang telah kita sebut sebelumnya, kita mampu menurunkan hukumnya tentu saja- dengan penambahan yang diperlukan padanya, yang mana seseorang tahu tentang apa yang Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi wasallam) telah larang, melalui ucapan, perbuatan, dan persetujuan (dengan diam).

Jadi jika kita kembali pada sunnah shahih, mengenai apa yang berkaitan dengan masalah pertama (minum sambil berdiri), yang banyak muslim, jika bukan mayoritasnya mereka, melakukannya sekarang ini. Dan ini berlawanan dengan ucapan Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi wasallam) tentang minum sambil berdiri. Mereka minum sambil berdiri, mereka (yakni manusia) memakai emas, dan sutra. Ini adalah fakta yang tidak bisa diingkari.

Tapi apakah Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi wasallam) setuju dengan semua ini ? Jawabannya adalah beliau beberapa dan melarang beberapa. Jadi apapun yang beliau larang maka jatuh pada batas kejahatan (munkar) dan apapun yang beliau setujui, maka masuk ke dalam batas kebaikan (ma`ruf). Beliau melarang minum sambil berdiri dalam banyak hadits. Dan saya tidak mau terlalu jauh dalam menyebutkan semuanya, jadi pertama-tama, kita tidak beralih dari waktu yang kita batasi bagi kita untuk mendiskusikan topik ini sehingga kita bisa menjawab beberapa pertanyaan pada akhir acara dan kedua, permasalahan ini butuh majlis khusus untuknya.

Cukup untuk menghadirkan satu hadits shahih, yang telah diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya, diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu`anhu, yang berkata: “Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi wasallam) melarang minum sambil berdiri.”

Dan pada riwayat lain [dari hadits], dia berkata: “Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi wasallam) melarang dari minum sambil berdiri.”

Maka dari itu, hal yang biasa dilakukan selama masa Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi wasallam), sebagaimana oleh Ibnu `Umar, adalah terabaikan dan terlarang. Jadi hal yang biasa mereka lakukan menjadi terlarang, berdasarkan pelarangan nabi terhadapnya . Tapi bagian kedua dari hadits (Ibnu `Umar), yang menyatakan bahwa mereka biasa makan sambil berdiri, kami tidak mendapatkan riwayat yang menunjukkan bahwa Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi wasallam) melarangnya.

Jadi kami turunkan dari persetujuan (dengan diam) ini, sebuah fiqih (aturan syar`i). Sampai disini, kita telah menyadari kebutuhan yang sangat untuk bergantung pada jalannya Salafus Shalih untuk memahami Al-Qur`an dan As-Sunnah. Dan tidak seorangpun dapat bergantung pada pengetahuannya, jika ini tidak bisa dikatakan kebodohannya, dalam memahami Al-Qur`an dan As-Sunnah.

Setelah memperjelas permasalahan penting di atas manhaj Salafus Shalih ini, saya harus memberi kalian beberapa contoh. Di masa lalu, muslimin terpecah menjadi banyak sekte. Kalian dengar tentang Mu`tazilah , kalian dengar tentang Murji`ah, kalian dengar tentang Khawarij , kalian dengar tentang Zaidiyyah, belum lagi Syi`ah dan Rafidhah , dan lain-lain. Tidak ada di antara kelompok-kelompok ini, tanpa memandang seberapa dalam kesesatan mereka, bahwa tidaklah berbagi ucapan yang sama sebagaimana muslimin yang lainnya, yaitu: “Kami berada di atas Al-Qur`an dan As-Sunnah.” Tidak seorangpun di antara mereka mengatakan: “Kami tidak mengikuti Al-Qur`an dan As-Sunnah.” Dan jika satu dari mereka mengatakannya, dia akan benar-benar keluar dari lipatan Islam.

Jadi kenapa mereka berpecah belah selama mereka berpegang pada Al-Qur`an dan As-Sunnah dan saya bersaksi bahwa mereka bersandar pada Al-Qur`an dan As-Sunnah sebagai pendukung. Tapi bagaimana penyandaran ini dilakukan ? Penyandaran ini dilakukan tanpa bersandar pada dasar ketiga, yang para Salafus Shalih ada di atasnya.

Dan ada poin tambahan lain yang perlu dicatat di sini dan itu adalah bahwa As-Sunnah sangat berbeda dari Al-Qur`an Al-Karim dalam hal bahwa Al-Qur`an Al-Karim berupa mushaf, dan ini seperti yang dikenal baik oleh semua orang. Dalam masalah sunnah, maka untuk banyak bagiannya, tersebar dalam ratusan, kalau bukan ribuan buku, di antaranya berada dalam bagian yang paling banyak yang tetap tersembunyi manuskrip yang tidak tercetak.

Lebih jauh lagi, bahkan buku-buku dari mereka ini yang dicetak sekarang ini, ada hadits-hadits yang shahih dan lemah. Jadi siapa yang berpegang pada As-Sunnah sebagai penyokong, baik mereka yang menisbatkan diri pada Ahlus Sunnah wal Jama`ah dan metodologi Salafus Shalih atau mereka dari kelompok lain kebanyakan mereka tidak bisa membedakan hadits shahih dari yang lemah. Mereka terjatuh kepada pertentangan dan kontradiksi Al-Qur`an dan As-Sunnah karena penyandaran mereka pada hadits-hadits lemah dan palsu. Intinya bahwa kelompok ini yang baru saja kita sebutkan, menolak arti literal yang tercantum dalam Al-Qur`an dan Hadits Nabawy, di masa lalu dan juga masa kini.

[Sebagai contoh] Al-Qur`an menetapkan dan memberikan pahala pada orang-orang mukmin dari nikmat yang sangat besar yang akan mereka terima di surga, yaitu Robb semesta alam akan memperlihatkan DiriNya pada mereka dan mereka akan melihatNya.
Sebagaimana dinyatakan seorang Ulama Salaf: “Orang-orang mukmin akan melihatNya, (kami percaya ini) tanpa berkata bagaimana itu bisa dilakukan atau membuat permisalannya atau memberi contohnya.”

Bukti-bukti tekstual dari Al-Qur`an dan As-Sunnah menyatakannya. Jadi bagaimana beberapa firqoh masa lalu dan sekarang ini, mengingkari berkah yang besar ini ? Dan untuk kelompok-kelompok di masa lalu yang menolak melihat (Allah) ini, adalah mu`tazilah.

Sekarang ini, menurut apa yang saya ketahui, tidak ditemukan kelompok apapun di muka bumi ini yang berkata “Kami adalah mu`tazilah, kami mengikuti iman mu`tazilah.” Bagaimanapun, saya melihat seorang bodoh yang mengumumkan bahwa dialah mu`tazily. Dan dia menolak banyak fakta-fakta yang ada dari agama karena dia tergesa-gesa. Jadi mu`tazilah ini menolak berkah terbesar ini dan mereka berkata dengan akal mereka yang lemah: “Tidak mungkin Allah dapat dilihat!” Jadi apa yang mereka lakukan” Apakah mereka menolak Al-Qur`an Allah berfirman dalam Al-Qur`an : “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya-lah mereka melihat.” [Al-Qiyamah: 22-23]

Apakah mereka menolak ayat ini ? Tidak, mereka tidak menolaknya atau mengingkarinya atau tida mempercayainya.

Sampai sekarang, aturan Ahlus Sunnah sejati adalah bahwa mu`tazilah berada di atas kesesatan tapi tidak menyebabkan mereka keluar dari Islam. Ini karena tidak menolak ayat ini, tapi mereka menolak makna sebenarnya, yang mana penjelasannya telah dinyatakan dalam As-Sunnah, jika kita ingat. Allah berfirman tentang orang-orang mukmin yang akan memmasuki surga: “Wajah-wajah (orang orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya-lah mereka melihat.”

Kemudian mereka mengubah maknanya mereka percaya pada perkataan ayat tapi mengingkari maknanya. Dan perkataan, sebagaimana dikatakan oleh para Ulama, adalah pembentuk makna. Jadi kita percaya pada perkataan tapi tidak percaya pada maknanya, maka Iman yang seperti ini tidak mengenyangkan terhadap rasa lapar [yakni tidak memberi bermanfaat].

Jadi kenapa orang-orang ini menolak melihat Allah Pikiran mereka tersempitkan dari pembayangan dan penggambaran bahwa hamba ini, yang diciptakan dan terbatas, mampu melihat Allah secara terang-terangan, sama dengan ketika Yahudi meminta Mussa (untuk melihat Allah), sehingga Allah mencegah mereka, sebagaimana ditemukan di dalam kisah yang terkenal [lihat surat Al-Baqoroh: 55-59, Allah berfirman pada Musa] : “Lihatlah kepada bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala), niscaya kamu dapat melihatKu.” [Al-A`rof: 143]

Akal mereka tersempitkan sehingga mereka merasa harus bermain-main dengan teks Qur`any dan mengubah maknanya. Kenapa (?) karena iman mereka terhadap yang ghaib itu lemah dan iman mereka terhadap akal mereka lebih kuat daripada iman mereka terhadap yang ghaib yang mana mereka diperintahkan untuk beriman padanya, di permulaan surat Al-Baqoroh: “Alif Lam Mim. Ini adalah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa “(siapa mereka”)- Mereka yang beriman pada yang ghaib.” [Al-Baqoroh: 1-3]

Allah itu ghaib, jadi kapanpun Robb kita berkata tentang DiriNya, kita harus menegaskan bahwa itu benar dan kita harus percaya padanya, karena akal kita sangat terbatas.
Mu`tazilah tidak mengakui poin ini, sehingga itulah kenapa mereka mengingkari dan menolak banyak fakta yang ada dalam agama, seperti firman Allah: wajah-wajah pada hari itu akan cerah, memandang Robb mereka.

Ini juga sama untuk ayat lain, yang lebih tidak jelas dengan orang-orang ini daripada ayat pertama, dan ini adalah perkataan Allah: “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (Al-Husna) dan tambahannya (Az-Ziyadah).” [Yunus: 26]

Al-Husna di sini merujuk pada surga, dan ziyadah di sini berarti, melihat Allah di hari akhir. Inilah apa yang dinyatakan dalam hadits yang diriwayatkan dari shahih Muslim, dengan isnad yang shahih dari Sa`id Ibn Abi Waqqash radhiyallahu`anhu, yang berkata: Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi wasallam) bersabda: “Untuk mereka yang melakukan kebaikan, mereka akan menerima Al-Husna (berarti) surga- dan ziyadah (berarti) melihat Allah.”

Mu`tazilah dan juga syi`ah, yang mu`tazilah dalam aqidahnya, menolak bahwa Allah akan dilihat, yang telah ditegaskan pada ayat pertama dan dijelaskan oleh Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi wasallam) di ayat kedua. Dan ada banyak hadits (mencapai tingkatan mutawatir) dari Nabi tentang ini.
Tamtsil (pengalihan makna sebenarnya) mereka dari Al-Qur`an telah membawa mereka kepada menolak hadits-hadits shahih dari Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi wasallam) .

Jadi mereka meninggalkan dari batasan-batasan untuk dianggap sebagai Firqoh Najiyah “yang aku dan shahabatku ada di atasnya. Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi wasallam) percaya dan memiliki keimanan yang kokoh bahwa mukminin akan melihat Rabb mereka, karena diriwayatkan dalam 2 shahih dari riwayat banyak shahabat, seperti Abu Sa`id Al-Khudry, Anas bin Malik dan di luar 2 shahih- ada Abu Bakr Ash-Shiddiq dan seterusnya. Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi wasallam) bersabda: “Sesungguhnya kalian akan melihat Robb kalian di hari pembalasan, seperti kalian melihat bulan di langit (yang cerah) yang mana bulan purnama kalian tidak akan kesulitan melihatnya.”

Apa yang dimaksud di sini adalah kalian tidak akan kesulitan melihat Allah sebagaimana tidak kesulitan melihat bulan pada malam cerah yang mana ada bulan purnama, tanpa awan. Mereka menolak hadits-hadits ini berdasarkan akal-akal mereka, sehingga mereka memiliki iman yang lemah.

Inilah satu contoh dari perkara-perkara yang beberapa firqoh di masa lalu terjatuh padanya juga. Dari tingkatan mereka adalah Ibadiyyah yang sekarang ini aktif menyeru orang-orang kepada kesesatan mereka. Mereka memiliki artikel-artikel dan risalah-risalah yang disebarkan dan dibagikan, yang mana mereka menghidupkan kembali banyak kesesatan, yang khawarij diketahui karena (melakukan)nya di masa lalu, seperti penolakan mereka bahwa Allah akan nampak di surga .

Sekarang kami akan menghadirkan kalian dengan contoh masa kini, yaitu Qadiyany . Mungkin kalian pernah mendengar mereka. Orang-orang ini mengatakan sebagaimana kita berkata: “Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan Muhammad itu utusan Allah.” Mereka shalat 5 kali dalam sehari, mereka mengadakan shalat Jum`at, mereka berhaji dan umroh ke rumah suci Allah. Tidak ada beda antara kita dengan mereka mereka seperti halnya muslim. Tetapi, mereka berbeda dengan kita dalam banyak perkara aqidah, seperti kepercayaan mereka bahwa kenabian tidak berakhir. Mereka percaya bahwa nabi-nabi akan datang setelah Muhammad dan mereka mengklain bahwa seorang dari mereka telah datang ke Qadiyan, suatu negeri di India. Sehingga (mereka berkata bahwa) seseorang yang tidak percaya pada nabi ini yang datang pada mereka, maka dia adalah seorang kafir. Bagaimana mereka bisa berkata begini, sedangkan ayatnya jelas: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi wasallam) dan penutup nabi-nabi.” [Al-Ahzab: 40]

Bagaimana mereka mengatakannya, sementara hadits-hadits telah mencapai tingkatan tawatir, (menyatakan): “tidak ada nabi setelahku.” Jadi mereka mengubah makna Al-Qur`an dan As-Sunnah dan mereka tidak menafsirkan Al-Qur`an dan As-Sunnah sebagaimana para Salafus Shalih menafsirkan keduanya.

Maka muslimin juga mengikuti mereka dalam perkara itu tanpa ketaksetujuan apapun yang terjadi di antara mereka, sampai datang orang menyimpang dan sesat ini, bernama Mirza Ghulam Ahmad Al-Qadiyany yang mengaku sebagai nabi. Dan dia memiliki kisah yang panjang, yang bukan merupakan fokus dari subjek kita sekarang. Sehingga dia menipu banyak orang yang tidak berilmu terhadap fakta-fakta ini, yang melindungi muslimin dari tersesat, sebagaimana Qadiyany ini menyimpang dengan Dajjal ini yang mengakui kenabian untuknya.

Apa yang mereka lakukan dengan firman Allah: “tetapi dia adalah Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi wasallam) dan penutup nabi-nabi.” Mereka berkata bahwa ini bukan berarti tidak ada nabi setelah beliau, melainkan ucapan khatam merujuk pada perhiasan nabi.

Seperti halnya khatam ini (segel atau cincin) adalah hiasan jari, maka seperti itu pula, Muhammad adalah perhiasan para nabi. Maka dengan begitu mereka tidak mengkufuri ayat tersebut. Mereka tidak berkata bahwa Allah tidak mewahyukan ayat ini ke dalam hati Muhammad. Melainkan mereka kufur terhadap makna aslinya. Jadi apa yang baik adalah beriman dalam perkataan jika tidak ada keimanan dalam makna aslinya.

Jika kamu tidak ragu terhadap fakta ini, maka apa jalan untuk mengetahui makna Al-Qur`an dan As-Sunnah. Kalian telah tahu jalannya. Bukanlah bagi kita untuk bersandar pada pengetahuan bahasa Arab, atau untuk menafsirkan Al-Qur`an dan As-Sunnah dengan keinginan kita atau tradisi kita, atau taklid kita, atau madzhab kita, atau perintah (Sufy) kita, melainkan, satu-satunya jalan adalah sebagaimana dikatakan secara umum, dan aku akan menutup ceramahku dengan ini: “Dan setiap kebaikan adalah dalam mengikuti Salaf. Sedangkan setiap keburukan adalah bid`ahnya khalaf.”

Kami harap ini sebagai suatu pengingat terhadap mereka yang memiliki hati atau yang menggunakan pendengarannya sementara mereka menyaksikan. [Qaf: 37]

Sumber: Sebuah Kaset yang berjudul Hadzihi Da`watuna (Inilah da`wah kami), yang direkam dalam bahasa Arab dan didistribusi oleh Syuur Lil Intaaj Al-Islamy dan kemudian diterjemahkan dan ditulis ke dalam bahasa Inggris oleh al-manhaj.com.

Artikel ini merupakan terjemahan yang telah diedit dari kaset sebenarnya untuk bacaan yang lebih baik. Diterjemahkan ke dalam format artikel (bahasa Inggris) oleh Abu Maryam. Diproduksi oleh al-manhaj.com.

(Diterjemahkan ke bahasan Indonesia oleh Rasyid. PERINGATAN : Website al-manhaj.com kini menjadi penjejak Abul Hasan mubtadi’)
Ref : http://salafy.or.id/blog/2003/06/18/inilah-dawah-salaf-side-a/
Ref : http://salafy.or.id/blog/2003/06/19/inilah-dawah-salaf-side-b/

Related Posts: